Gaungkan Semangat Toleransi, Wali Kota Eri Ajak Pendeta se-Surabaya Wujudkan “Kampung Pancasila”

  • Whatsapp

Surbaaya, beritalima.com | Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat fondasi toleransi dan kebersamaan melalui program unggulan Kampung Pancasila. Sebagai langkah nyata, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, melakukan sosialisasi kepada Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Setempat (PGIS) Kota Surabaya bertempat di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, Senin (13/4/2026).

 

Wali Kota Eri menegaskan bahwa Kampung Pancasila bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan gerakan nyata untuk mengajak warga Kota Surabaya menjalankan ajaran agama masing-masing dalam bingkai NKRI.

 

Dalam paparannya, Wali Kota Eri menyoroti makna sila pertama yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai titik temu keberagaman. Ia mengingatkan bahwa meski keyakinan berbeda, setiap pemeluk agama, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, maupun Buddha, memiliki kewajiban untuk menciptakan kesejahteraan bagi sesama.

 

“Tuhan sedang menguji kita, apakah kita mampu melewati masa-masa ini dengan tetap bersatu. Jika membangun rumah ibadah saja masih sulit atau penuh perdebatan, berarti komunikasi antarumat beragama masih kurang dekat,” tegas Wali Kota Eri Cahyadi di hadapan para pengurus PGIS.

 

Selain itu, Wali Kota yang akrab disapa Cak Eri itu juga menitipkan pesan kepada para pemimpin agama untuk mengajak jemaatnya agar menyaluran bantuan sosial, seperti zakat maupun persepuluhan, diutamakan untuk membantu warga di lingkungan kampung sendiri terlebih dahulu.

 

“Jangan sampai uang itu dikeluarkan ke luar kota atau luar kampung, sementara ada tetangga kita yang berbeda agama sedang kesusahan. Kedekatan batin antarmanusia akan muncul jika kita saling membantu di dalam kampung yang sama,” tambahnya.

 

Tak hanya mengenai kerukunan, Wali Kota Eri kembali mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali tradisi kerja bakti yang kini mulai pudar. Sebab, Kampung Pancasila juga mencakup beberapa aspek, antara lain sosial budaya, lingkungan, ekonomi dan keamanan.

 

“Aspek sosial budaya dilakukan untuk menciptakan kedekatan batin antarwarga tanpa melihat latar belakang agamanya. Begitu juga dengan lingkungan, kita mengajak warga dengan memilah sampah agar anggaran ratusan miliar (anggaran pengelolaan sampah) dapat dialihkan untuk sekolah dan kesehatan gratis, begitu pula dengan aspek lainnya,” ungkap Wali Kota Eri.

 

Menutup arahannya, Wali Kota Eri menitipkan pesan kepada para Pendeta agar menyisipkan semangat Kampung Pancasila dalam setiap khotbah Minggu. Ia berharap setiap RW di Kota Pahlawan memiliki “penjaga moral” yang terdiri dari kiai, pendeta, pastor, dan pemangku yang duduk bersama mendampingi semua lapisan masyarakat.

 

“Surabaya dibangun dengan kekuatan gotong-royong, bukan karena Wali Kotanya hebat. Wali Kota hanya penyatu. Jika warganya tidak mau berubah, maka perubahan itu mustahil terjadi. Saya yakin, dengan doa dan keyakinan positif kita semua, Surabaya akan menjadi contoh toleransi tertinggi di Indonesia,” tandasnya.

 

Sementara itu, Ketua Satgas Kampung Pancasila sekaligus Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widiyanto menegaskan, program Kampung Pancasila merupakan penyatuan dari seluruh program Pemkot Surabaya yang kini fokus pada kolaborasi antara birokrasi dan masyarakat.

 

Irvan mengungkapkan bahwa melalui Kampung Pancasila, Pemkot Surabaya ingin  memperkuat kolaborasi bersama warga hingga akar rumpat ditingkat RW. Kolaborasi tersebut, ditunjukkan dengan adanya Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas menjadi pendamping di Setiap RW.

 

“Total ada 1.361 RW di Surabaya yang masing-masing didampingi oleh satu hingga dua orang ASN. Sementara itu, setiap Ketua RW secara langsung akan menjabat sebagai Ketua Satgas Kampung Pancasila di wilayahnya masing-masing,” ujar Irvan.

 

Menurutnya, warga Kota Surabaya sudah mempraktikkan nilai-nilai Pancasila secara spontan saat pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2021. Sehingga, program Kampung Pancasila adalah melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk kelembagaan yang lebih tertata.

 

“Waktu pandemi, ketika ada satu kepala keluarga yang diisolasi dan tidak bisa bekerja, tetangganya secara spontan memasakkan makanan pagi, siang, dan malam tanpa diperintah pemerintah. Spontanitas gotong royong inilah yang ingin kita lembagakan kembali melalui Kampung Pancasila,” terangnya.

 

Ia menambahkan, melalui program ini, tidak boleh ada lagi masyarakat yang acuh terhadap sekitar, terlebih tetangga di lingkungannya sendiri.

 

“Kami berharap warga harus lebih peduli pada tetangga sampingnya yang masih membutuhkan pertolongan atau bantuan, mulai dari penanganan stunting, anak putus sekolah, hingga kemiskinan ekstrem,” pungkasnya. (*)

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait