Gentengisasi ala Presiden Prabowo Tak Jalan, Bangunan KDMP Bondowoso Gunakan Spandek

  • Whatsapp
Salah satu gedung koperasi Merah Putih yang sudah selesai dibangun di Bondowoso menggunakan atap seng galvalum. (istimewa/beritalima.com)

BONDOWOSO, beritalima.com – Instruksi Presiden Prabowo Subianto terkait Gerakan Nasional Gentengisasi yang mewajibkan penggunaan atap genteng pada bangunan gedung dan rumah di Indonesia, tampaknya belum sepenuhnya berjalan di lapangan. Fakta itu terlihat pada bangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Bondowoso yang justru menggunakan atap seng galvalum.

Presiden Prabowo sebelumnya menegaskan bahwa program gentengisasi nasional bertujuan memperindah wajah Indonesia sekaligus mengurangi penggunaan atap seng yang dinilai panas, mudah berkarat, dan kurang sedap dipandang. Program tersebut bahkan dirancang dengan melibatkan KDMP sebagai ujung tombak produksi genteng berbasis koperasi.

Bacaan Lainnya

Namun ironisnya, gerai KDMP yang sudah rampung dibangun dan siap beroperasi di Bondowoso itu justru menggunakan atap seng yang dicat warna merah hati, bukan genteng sebagaimana instruksi presiden.

Kondisi ini disayangkan oleh pengusaha genteng lokal Bondowoso. Salah satunya AB, pemilik usaha Genteng Desa Koncer Kidul, yang berharap KDMP dapat menggunakan produk genteng buatan pengrajin lokal.

“Tidak ada mas (KDMP yang menggunakan genteng, red). Semuanya pakai spandek,” kata AB saat dikonfirmasi, Selasa (3/2/2026).

Menurutnya, jika proyek strategis pemerintah seperti KDMP menggunakan genteng lokal, maka hal itu akan sangat membantu keberlangsungan usaha pengrajin di daerah. Terlebih, harga genteng saat ini tergolong terjangkau, yakni Rp800 ribu per 1.000 genteng dengan catatan pembeli menanggung biaya angkut sendiri.

Ia menjelaskan, proses produksi genteng tidaklah mudah dan membutuhkan biaya cukup besar. Harga bahan baku seperti tanah liat mencapai Rp120 ribu per pikap, yang hanya menghasilkan sekitar 800 genteng. Sementara kayu bakar seharga Rp600 ribu per pikap digunakan untuk membakar 6.000 genteng, ditambah sekam senilai Rp450 ribu sekali bakar.

“Kalau ditotal, sekali bakar butuh biaya lebih dari Rp3 juta. Jadi hasilnya benar-benar mepet,” ujarnya.

Kondisi semakin berat saat musim hujan. Proses pengeringan genteng bisa memakan waktu hingga lebih dari satu minggu, bahkan untuk bisa terkumpul 6.000 genteng siap bakar, pengrajin harus menunggu hingga satu bulan. Padahal, proses pembakaran di tungku hanya membutuhkan waktu sekitar 10 jam.

AB mengungkapkan, saat ini pemasaran genteng miliknya hanya mengandalkan permintaan rumah pribadi. Proyek-proyek besar, termasuk proyek pemerintah, nyaris tidak ada yang menggunakan genteng. Akibatnya, penjualan menurun drastis.

“Biasanya bisa jual 12 ribu genteng per bulan, sekarang paling 6.000, bahkan kadang di bawah itu,” ungkapnya.

Dirinya berharap pemerintah konsisten menjalankan instruksi gentengisasi dengan tidak lagi menggunakan atap seng pada proyek-proyek strategis. Bahkan, ia mengaku pernah menawarkan produknya untuk pembangunan KDMP, namun ditolak.

“Sudah banyak yang mengusulkan, ke kontraktor, mandor, sampai tukang. Tapi katanya standar harus pakai seng. Sekarang penjualan genteng benar-benar lesu, tidak normal,” pungkasnya. (*)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait