Jakarta, beritalima.com|- Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar saat bicara dalam Rapat Kerja Nasional Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Rakernas Gekrafs) menekankan, fokus kolaborasi pada inovasi dan aksi nyata bagi ekraf hadapi tantangan masa depan.
Hal ini perlu dukungan terhadap kreator konten, musisi, dan talenta-talenta dari tiap subsektor ekraf. Irene meyakini setiap pejuang kreatif bisa berkembang melalui media sosial yang menjangkau audiens internasional.
“Pertanyaannya bukan lagi soal modal atau koneksi, tetapi seberapa besar kemauan kita untuk mulai berusaha sendiri menjadi pejuang ekonomi kreatif. Kalau benar ingin berkarya, selalu ada jalan untuk berkembang, apalagi era digital sekarang yang tidak mengenal limitations in access to funding and network,” ucap Irene dalam Talkshow ASTAKARYA di Nusantara Ballroom, NT Tower, Jakarta (6/3).
Kegiatan talkshow ini menjadi rangkaian dari Rakernas GEKRAFS) 2026 bertema ‘Astakarya: Akselerasi Karya, Transformasi Ekonomi Indonesia’.
“Tugas Kementerian Ekraf ialah memberikan panggung bagi para pejuang ekraf untuk showcase apa yang dipunya. Salah satunya, kami sudah launching Ekraf Hunt, yang mana pejuang ekraf bisa memasukkan portfolio and self manage melalui akunnya sehingga masuk dalam centralized database. Dengan adanya platform dan jaringan yang kami bangun, talenta kreatif Indonesia bisa lebih mudah ditemukan dan berkolaborasi dengan berbagai pihak,” jelas Irene yang juga Wakil Dewan Pakar GEKRAFS.
Senada dengan pernyataan Wamen Ekraf, Yovie Widianto sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Ekraf sekaligus Ketua Dewan Pakar GEKRAFS mengatakan, kreativitas sering kali lahir dari keterbatasan dan tantangan. Yovie turut menceritakan perjalanan kariernya berkarya di industri musik Indonesia lebih empat dekade.
“Saya selalu percaya bahwa kreativitas itu datang dalam kondisi terbatas atau terdesak seperti seorang penulis yang mungkin dikejar _deadline_. Selain itu, saya juga berteman dengan kemajuan teknologi sehingga keniscayaan untuk bermusik semakin berkembang,” terang Yovie.
Sementara Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni sekaligus Wakil Ketua Umum DPP GEKRAFS, Raffi Ahmad menuturkan, kreativitas harus diarahkan menjadi kekuatan bisnis sehingga pejuang ekraf mampu bersaing di pasar global. Raffi menilai kreativitas perlu dilindungi melalui penguatan hak kekayaan intelektual serta pengelolaan profesional.
Raffi mengajak pentingnya kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor dalam ekosistem ekonomi kreatif. Menurutnya, keberhasilan dalam industri kreatif tidak lahir dari individu semata, tetapi juga kerja solid tim kreatif yang dibentuk.
“Dalam dunia kreatif, tidak ada yang hebat karena satu orang. Tidak ada superman, yang ada ialah super team sebagai bentuk kolaborasi yang membuat kreativitas berkembang dan bertahan lama. Kreativitas itu bukan hanya sebuah karya, tetapi juga masa depan bangsa,” sebut Raffi.
Dipandu moderator Temmy Sumarlin, talkshow semakin interaktif dengan sesi tanya jawab dari perwakilan DPD, DPW, dan DPC GEKRAFS mengenai bagaimana mengubah hobi menjadi profesi hingga dukungan bagi talenta atau musisi lokal.
Jurnalis: rendy/abri








