SURABAYA, beritalima.com – Regenerasi kepemimpinan kembali bergulir di tubuh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Dalam Musyawarah Komisariat (Muskom) yang digelar Kamis (12/2/2026), kader GMNI Hukum Untag Surabaya menetapkan M. Ja’far Raihan Alfath sebagai Ketua Komisariat periode mendatang, berpasangan dengan Daniel Yulius Caesar sebagai Sekretaris Komisariat.
Muskom yang mengusung tema “Penguatan Ideologi Marhaenisme Guna Membentuk Kapasitas dan Kualitas Kader GMNI Hukum Untag Surabaya” berlangsung melalui empat sidang pleno secara sistematis dan demokratis. Forum dihadiri kader aktif serta perwakilan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Surabaya.
Terpilihnya Ja’far dan Daniel dinilai bukan tanpa rekam jejak. Ja’far sebelumnya menjabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Untag Surabaya periode 2025–2026, sementara Daniel merupakan Ketua Dewan Pimpinan Mahasiswa (DPM) FH pada periode yang sama.
Keduanya dikenal solid dalam menjalankan roda organisasi mahasiswa di tingkat fakultas.
Pelantikan dan serah terima kepemimpinan turut disaksikan demisioner Ketua Komisariat Sabrina Nurfauziah bersama Kevin Nugraha Sampurna. Kehadiran keduanya menjadi simbol transisi yang dinilai berjalan tertib dan kondusif.
“Tongkat estafet ini menjadi titik penting agar GMNI Komisariat Hukum tetap berjalan dinamis, menjadi wadah bagi seluruh kader untuk berkembang dan berkontribusi bagi bangsa,” ujar Ja’far usai ditetapkan sebagai ketua terpilih.
Sebagai organisasi kader yang berdiri sejak 1954 atas restu Presiden Soekarno, GMNI dikenal berlandaskan ideologi Marhaenisme dengan tiga pilar utama: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Di tingkat komisariat, penguatan ideologi disebut menjadi fokus utama untuk menjawab tantangan dinamika kampus dan persoalan kebangsaan yang kian kompleks.
Di tengah iklim gerakan mahasiswa yang dinilai cenderung pragmatis, GMNI Hukum Untag Surabaya menegaskan komitmennya sebagai organisasi ideologis. Forum Muskom juga menekankan pentingnya kaderisasi berjenjang, peningkatan kapasitas intelektual, serta konsistensi sikap terhadap isu-isu sosial, hukum, dan keadilan.
Kepemimpinan baru ini dihadapkan pada tantangan konkret: menjaga militansi kader tanpa terjebak romantisme historis, sekaligus memastikan organisasi tetap relevan dengan perkembangan hukum dan politik nasional. Ja’far dan Daniel dituntut membuktikan bahwa penguatan Marhaenisme bukan sekadar jargon forum, melainkan diterjemahkan dalam program kerja nyata. (Han)








