beritalima.com

Great Depression, Roosevelt Dan P 10: Poitical Legacy

  • Whatsapp

Serial 10 P Untuk Marketing Politik
Denny JA

beritalima.com


Sulitnya hidup di kala itu. Grafik tersebut sudah bicara.
Grafik itu menjelaskan angka pengangguran di Amerika Serikat, sejak tahun 1910-1960. Rata rata setiap tahun, angka pengangguran di level 5 persen. Tapi khusus di era tersebut, di era Great Depression, tahun 1929-1935, angka pengangguran melonjak hingga 25 persen.
Seperempat dari tenaga kerja tak ada pekerjaan. Tak ada penghasilan. Sementara mereka yang masih beruntung memiliki pekerjaan, sebagian hanya terlempar menjadi pekerja paruh waktu.


Secara total bisa dikatakan, separuh dari tenaga kerja yang ada hanya berdiam di rumah. Menunggu datang pekerjaan, sambil menahan perut yang lapar.
Grafik lainnya bercerita soal pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat. Juga itu di periode waktu yang sama. Umumnya sejak tahun 1910, ekonomi Amerika Serikat terus tumbuh secara konsisten.
Tapi di era itu, era Great Depression, tahun 1929-1935, pertumbuhan ekonomi anjlok. Di era itu pula terjadi apa yang disebut dengan The Black Tuesday, 1929. Harga saham jatuh yang hingga kini tercatat terbesar dalam sejarah. Jutaan saham tak lagi punya harga. (1)
Era itu, sebanyak 16.410.030 saham diperdagangkan di NYSE dalam satu hari.  Raksasa keuangan seperti William C. Durant dan anggota keluarga Rockefeller berusaha menstabilkan pasar dengan membeli sejumlah besar saham. 


Ini untuk menunjukkan kepercayaan mereka pada pasar. Diharapkan, tindakan mereka menularkan trust publik luas kepada saham. 
Tapi itu  tidak menghentikan penurunan harga yang cepat.  Pada siang hari, satu hari itu saja, pasar telah kehilangan $ US 14 miliar. Atau sekitar 200 trilyun rupiah menguap.
Di kota dan di desa di Amerika Serikat banyak berdiri tenda. Di sana dibagikan roti dan sup gratis. Rakyat berjejer mengantri.
Isu mulai merebak. The hungry man segera menjadi the angry man. Orang yang lapar segera menjadi orang yang marah. Kesulitan ekonomi segera menjadi kerusuhan politik.
Sulitnya hidup saat itu juga diabadikan dalam karya sastra. Salah satu yang menonjol adalah novel  The Grape of Wrath karya John Steinbegh. Novel ikut mengantar penulisnya mendapatkan hadiah Nobel untuk sastra.
Di dalam novel, diceritakan banyak keluarga yang jatuh miskin. Ada yang mencoba bunuh diri.
-000-


Franklin R Roosevelt dilantik menjadi presiden Amerika Serikat di era ini. Ia menjadi presiden yang masa pemerintahannya paling panjang di negeri itu, 1933-1945.
Ia membawa program besar yang disebut the New Deal.  Program itu, Ia simbolkan dengan Tiga R: Relief, Recovery dan Reform. 
Yaitu Relief, lepas dari tingkat pengangguran yang sangat besar. Recovery, mengembalikan ekonomi ke masa normal. Dan Reform, memperbaharui sistem pemerintahan dan keuangan, agar Great Depression segera berlalu.
Di masa Roosevelt, banyak program dan perubahan yang dibuatnya. Ia mengesahkan program Social Security. Program ini memberikan bantuan dan subsidi kepada rakyat kecil. Tak hanya di bidang makanan, kesehatan, pendidikan, tapi juga perumahan.


Ia menciptakan Big Government. Ialah pemerintah yang menggerakkan ekonomi, menciptakan pekerjaan, menyerap tenaga kerja, membelanjakan begitu besar dana.
Roosevelt juga menciptakan lembaga presiden menjadi begitu sentral. Figur presiden, walau tetap dibatasi konstitusi, begitu berkuasa membuat kebijakan, mempengaruhi opini, menggerakkan masyarakat.
Di era Roosevelt, Great Depression terlampaui. Perannya yang kuat dalam perang dunia kedua, juga ikut membuat Amerika Serikat menjadi super power dunia yang baru. 


Berbagai riset dibuat oleh ahli sejarah dan ilmuwan politik. Mereka membuat rangking presiden Amerika Serikat terbesar sepanjang sejarah. 
Banyak perbedaan di kalangan ahli. Namun mereka bersepakat. Tiga presiden AS terbesar  termasuk Franklin Delanor Roosevelt. Presiden ini membawa Amerika Serikat tak hanya lepas dari Great Depression. Namun Amerika tumbuh pula sebagai super power dunia yang disegani.
Bersama Roosevelt, juga terpilih Abraham Lincoln dan George Washington. Itulah tiga presiden paling berpengaruh, paling dihormati, paling dikenang dalam sejarah Amerika Serikat. (2)
Apa yang membuat mereka dianggap terbesar? Jawabnya adalah Policy Achievement. Prestasi ketika mereka menjadi presiden. Efek leadership mereka yang mengubah tatanan politik. Dalam bahasa yang populer: itu karena Political Legacy yang mereka tinggalkan.
-000-
Kisah Roosevelt di atas sengaja dituliskan sebagai pembuka. Esai ini akan masuk ke dalam P ke 10: Political Legacy.
Penulis merumuskan strategi marketing politik ke dalam formula 10 P.  Soal P ke 1 hingga ke 9 sudah diurai dalam esai terdahulu. Khusus esai ini membahas P yang terakhir, P 10, soal political legacy itu.
Apa itu political legacy? Bagaimana dunia akademik membicarakan political legacy?
Dalam esai ini, political legacy didefinisikan sebagai pencapaian seorang pemimpin. Pencapain itu bisa soal kebijakan atau program yang dibuatnya. Atau itu soal gagasan yang Ia populerkan. Atau ini soal karya mereka yang memiliki efek besar.
Political legacy justru dilahirkan ketika sang pemimpin tak lagi aktif. Tapi memori publik, para ahli atau persepsi segmen masyarakat tertentu tentang perannya terus tumbuh. Political legacy membuat tokoh itu hidup lebih lama dibandingkan umur fisiknya sendiri.

Christian Fong, Neil Malhotra, Yotam Margalit (2017) membuat riset mengenai political legacy. Ia membedakan dua jenis legacy. Pertama: Hard Legacy. Kedua: Soft Legacy.
Hard Legacy adalah karya kongkret sang pemimpin. Jika ia pejabat yang memerintah, hard legacy adalah policy achievement. Itu adalah public policy, program sang pejabat yang terukur.
Soft Legacy adalah memori publik luas mengenai sosok sang pemimpin. Soft legacy itu tentu saja dipengaruhi oleh Hard Legacy. Misalnya pemimpin itu tak akan dikenang harum publik luas jika tak ada karyanya.
Namun sangat mungkin pula pemimpin itu memiliki hard legacy yang kuat. Tapi publik tak mengingatnya. Zaman sudah berubah. Generasi berganti. Sosialisasi atas hard legacy pemimpin itu karena satu dan lainnya terhenti.
Fong dan teamnya melakukan studi political legacy untuk politik Amerika Serikat. Beberapa temuannya cukup penting.
Umumnya figur presiden lebih diingat dibanding figur ketua konggres atau ketua senat, atau menteri. Dalam memori publik, figur presiden lebih dominan.
Ketika figur presiden diingat, Ia langsung diasosiasikan dengan apapun yang paling menonjol tentang figur itu. Ketika nama Reagan muncul, misalnya, muncul pula memori asosiatif. Yaitu Reagan yang berhasil mengalahkan Uni Sovyet. Imajinasi runtuhnya tembok berlin datang paling kuat berasosiasi dengan nama Ronald Reagan.
Memori publik atas satu figur tak hanya soal prestasi baik, tapi juga sisi buruk. Yang diingat tak hanya kebijakan, tapi juga personality.
Disebut Richard Nixon, misalnya. Yang muncul paling kuat justru skandal watergate. Tak peduli Nixon punya banyak prestasi lain.
Tiga presiden terbesar Amerika Serikat dikenang karena efeknya pada tatanan politik Amerika Serikat. 
Lincoln melahirkan amandemen konstitusi ke 13. Saat itu tatanan politik Amerika Serikat berubah signifikan. Tak ada lagi perbudakan. Hak kulit hitam untuk juga bisa memilih dalam pemilu mulai diperjuangkan.
George Washington, tak hanya presiden pertama di Amerika Serikat. Ia juga presiden pertama di dunia. Ia terpilih sebagai presiden di tahun 1789. Saat itu sisa dunia hanya ada raja dan kerajaan.
Washington menolak menjadi raja. Dengan kekuasaan dan kharismanya saat itu, bisa saja jika ia hendak memaksakan Amerika Serikat menjadi kerajaan. Ia dapat menjadi raja dan turun temurun kekuasaan Ia alihkan kepada keluarganya.
Tapi Washington bersikeras memulai tradisi presiden. Bahkan Ia juga bersikeras hanya ingin menjabat dua periode saja. Jika ia bersikeras ingin terpilih kembali ketiga kalinya, dan seterusnya, itu hal yang mungkin.
Political legacy George Washington menjadi kuat justru karena “apa yang tidak dilakukannya.”
Roosevelt dikenang karena New Deal, Social Security dan Big Government. Dominasi konsep pemerintahan yang baik adalah yang besar terus bertahan tiga dekade setelah Ia wafat.
Hingga di tahun 1980an, datang Ronald Reagan yang membalikkan keadaan. Menurutnya, Pemerintah itu adalah problem, bukan solusi. Pemerintah yang baik justru pemerintahan yang kecil. The best government is the least government.
-000-
Pemimpin yang kuat di Indonesia juga meninggalkan political legacy. Walau di ujung pemerintahannya, Ia dijatuhkan, atau Ia tak lagi populer, tapi program atau gagasan kuat yang dibawanya tetap dikenang.
Political legacy Bung Karno adalah nasionalisme, persatuan Indonesia. Bung Hatta dikenang karena koperasi. Pak Harto sebagai bapak pembangunan. Habibie dikenang karena Ia meletakkan infrastuktur politik demokrasi di Indonesia.
Gus Dur, walau tak lama menjadi presiden, dan dijatuhkan dari pemerintahan, Ia dikenang untuk yang positif: memberi tempat tehormat kepada komunitas Tionghoa. Agama Khong Hu Chu diakui. Barangsoi dibolehkan di ruang publik. Program bahasa Cina masuk televisi.
Political legacy yang buruk dari sang pemimpin juga dikenang. Bung Karno pernah menjadi presiden seumur hidup. Pak Harto tekena kasus korupsi keluarga. Habibie membuat Timor Timur lepas dari Indonesia. Gus Dur membekukan DPR dan membubarkan Golkar.
Ujar Orison Swet Marden, penulis dari aliran New Thought Philosophy: “Perbedaan antara salah dan benar sama pentingnya dengan perbedaan antara superior dan medioker.
Superior untuk kualitas yang cemerlang. Medioker hanya untuk kualitas yang rata rata saja. 
Ketika kita memutuskan untuk menjadi pemimpin, apalagi ingin mendapatkan amanah dari rakyat banyak, pastikan jangan menjadi pemimpin yang medioker, yang biasa biasa saja. 
Pastikan ada political legacy yang akan dibuat. Yakini dulu ada program dan kebijakan kuat yang akan dihasilkan. Yang mengubah hajat hidup orang banyak. Tanpa hadir motif ini, dan kemampuan itu, biarkan pemerintah dijalankan oleh mereka yang lebih kompeten. ***
Agustus 2020

beritalima.com beritalima.com beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait