Jakarta, beritalima.com|- Sambut Peringatan Harlah Seratus Tahun Nahdlatul Ulama (NU), Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., mengingatkan perlunya organisasi keagamaan ini senantiasa hadir melayani masyarakat.
NU agar tak terjebak pada kebesaran simbolik semata. Di usia satu abad, NU justru dituntut semakin relevan, adaptif, dan mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Gus Hilmy dalam orasi kebangsaan pada peringatan Harlah 100 Tahun NU di Aula Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengatakan, sejarah panjang NU hanya akan bermakna jika diiringi keberanian melakukan pembaruan pelayanan dan tata kelola organisasi.
“NU sudah berusia 100 tahun. Kita tidak hanya ingin NU hidup 100 tahun lagi, tapi hidup sampai akhir zaman. Kalau NU ingin hidup, maka harus relevan. Relevan itu artinya hadir dan melayani,” ucap Gus Hilmy di hadapan pengurus NU se-Kabupaten Bantul (30/1).
Ia menekankan sejak awal berdiri, NU tidak pernah membatasi diri pada urusan ritual keagamaan semata. NU lahir sebagai gerakan keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Karena itu, relevansi NU harus hadir mulai dari lingkup keluarga hingga negara, dengan akhlak nahdliyin sebagai fondasi utama.
Dalam menggambarkan dinamika NU di usia satu abad, Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menyitir tembang Lir-ilir karya Sunan Kalijaga. Lagu tersebut, menurutnya, tetap kontekstual sebagai refleksi kebangkitan dan persebaran NU hari ini.
“Tak ijo royo-royo, NU sudah menyebar luas. Tak sengguh penganten anyar, gairahnya seperti pengantin baru,” papar Gus Hilmy, menafsirkan semangat kader NU yang terus tumbuh, berkembang di berbagai bidang.
Namun, di balik keberhasilan kaderisasi, Gus Hilmy mengingatkan adanya tantangan serius. Banyak kader NU kini berkiprah sebagai insinyur, dokter, birokrat, serta politisi. Diaspora kader tersebut hingga level internasional, sambungnya, harus dikelola secara terorganisir agar memberi kontribusi nyata bagi jam’iyah, bukan justru tercerai-berai tanpa arah.
“Kader-kader NU yang menempati posisi strategis adalah sumber daya besar. Tapi tanpa penataan, potensinya tidak akan berdampak signifikan bagi organisasi,” kritiknya.
Sorotan paling tajam disampaikan Gus Hilmy pada aspek pelayanan dan tata kelola. Ia menilai NU tidak bisa lagi sekadar berbangga memiliki sekolah, klinik, atau unit usaha jika pengelolaannya tidak profesional.
“Kita tidak bisa hanya jualan bendera. Kalau sekolah dan klinik diurus sekenanya, tanpa disiplin dan kesungguhan, jangan salahkan jika masyarakat berpaling,” terang pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.
Jurnalis: rendy/abri








