SURABAYA, Beritalima.com-
Anggota Komisi E DPRD provinsi Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, mengingatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul merebaknya kasus influenza varian H3N2 subklinik K atau yang dikenal sebagai super flu.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus tertinggi secara nasional, sehingga diperlukan langkah antisipatif yang serius namun tetap terukur.
Menurut Puguh, kondisi tersebut harus menjadi alarm awal bagi Pemprov Jatim, khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur sebagai leading sector, untuk segera melakukan mitigasi secara sistematis dan kolaboratif.
Upaya tersebut perlu melibatkan seluruh Dinas Kesehatan kabupaten dan kota serta memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur layanan kesehatan yang ada.
“Ini harus menjadi kewaspadaan bersama. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur perlu bergerak cepat dengan menggandeng Dinkes kabupaten dan kota, memanfaatkan seluruh fasilitas kesehatan mulai dari RSUD milik Pemprov, rumah sakit kabupaten/kota, Puskesmas hingga Puskesmas Pembantu untuk melakukan langkah mitigatif yang serius,” ujar Puguh.
Legislator PKS ini menilai, karakter virus yang mudah menular menuntut pendekatan pencegahan yang tepat.
Ia menekankan bahwa penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta penguatan imunitas masyarakat merupakan langkah paling sederhana namun efektif untuk menekan risiko penularan.
Puguh juga menyoroti data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan kelompok perempuan dan anak-anak usia 1 hingga 10 tahun menjadi klaster tertinggi kasus super flu. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut adanya edukasi publik yang lebih intensif dan berkelanjutan melalui jaringan layanan kesehatan pemerintah.
“Edukasi kepada masyarakat harus dilakukan secara masif. Membangun kesadaran tentang pentingnya PHBS, pola makan bergizi, serta konsumsi vitamin untuk meningkatkan imunitas tubuh menjadi sangat krusial,” tegasnya.
Lebih lanjut, Puguh menekankan peran strategis sekolah sebagai titik penting pencegahan, mengingat tingginya kasus pada anak usia sekolah. Ia mendorong institusi pendidikan untuk memperkuat budaya hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah.
“Guru, kepala sekolah, dan seluruh institusi pendidikan harus memiliki pemahaman yang sama. Apalagi saat ini ada program makan bergizi gratis, maka aspek higienitas saat mengonsumsi makanan, setelah makan, dan dalam aktivitas belajar sehari-hari harus benar-benar diperhatikan,” jelasnya.
Meski demikian, Puguh mengingatkan agar langkah-langkah mitigasi dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini super flu belum ditetapkan sebagai pandemi oleh pemerintah pusat.
“Tidak perlu membuat masyarakat panik. Yang terpenting adalah langkah mitigatif dan preventif yang serius, sistematis, dan berkelanjutan. Belajar dari pengalaman Covid-19, isu virus sangat sensitif dan harus dikelola dengan komunikasi publik yang bijak,” tukasnya.
Ia kembali menegaskan, sebagai provinsi dengan jumlah kasus tertinggi, Jawa Timur harus bergerak cepat dengan fokus pada penguatan PHBS, peningkatan imunitas masyarakat, serta perlindungan kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak-anak.(Yul)








