Jakarta, beritalima.com| – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Selly Andriany Gantina kecam keras intimidasi dan teror dialami influencer serta aktivis yang mengkritik penanganan bencana di tioga provinsi Sumatera, Selly menilai tindakan tersebut sebagai upaya sistematis membungkam suara kemanusiaan sekaligus alarm serius bagi demokrasi.
Bagi Selly, kritik yang disampaikan para influencer muncul karena kegagalan negara menghadirkan respons cepat dan transparan di lapangan. Ketika suara kepedulian dibalas ancaman, peretasan, hingga teror terhadap keluarga, hal itu menunjukkan ada pihak yang tidak siap diawasi.
“Ini bukan soal siapa paling keras bersuara, tapi siapa yang takut pada kebenaran di lapangan,” ucap Selly kepada beritalima (3/1). Ia menekankan, pihak yang paling dirugikan dari pembungkaman ini adalah masyarakat terdampak bencana.
Teror terhadap influencer berdampak langsung pada terputusnya arus informasi dan melemahnya tekanan publik agar penanganan bencana diperbaiki. “Jika suara mereka dipadamkan, korban bencana kehilangan alat perjuangan. Yang dirugikan bukan influencer, tapi rakyat,” jelasnya.
Selly mengingatkan, kritik terhadap penanganan bencana merupakan bagian sah dari kontrol sosial yang dijamin konstitusi. Menurutnya, upaya stigma kritik sebagai provokasi hanya akan memperdalam krisis kepercayaan publik. “Mereka bukan musuh negara. Mereka menyuarakan empati dan tanggung jawab,” ujar Selly.
Sebagai langkah tegas, Selly mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas pola intimidasi tersebut dan memastikan perlindungan terhadap warga yang bersuara. Ia meminta pemerintah membuka ruang evaluasi dan transparansi, alih-alih membiarkan teror menjadi alat pembungkam. “Negara tidak boleh absen. Jika teror dibiarkan, demokrasi kita mati pelan-pelan,” tegasnya.
Seperti diketahui, ada sejumlah influencer atau kreator konten dan aktivis menceritakan diteror belakangan ini (mobilnya dicoret, dilempar bom molotov kediamannya, intimidasi lewat telpon, peretasan hingga diirim bangkai ayam). Mereka adalah Iqbal Damanik, Ramond Dony Adam (DJ Donny), Sherly Annavita, Chiki Fawzi, Virdian Aurellio, dan Pitengz atau oposipit.
Jurnalis: rendy/abri








