Inovasi Pelajar Surabaya Ubah Kulit Bawang Jadi Produk Bernilai, Dispendik Gandeng BRIDA untuk Pengembangan

  • Whatsapp

Surabaya, beritalima.com | Kepedulian terhadap lingkungan mendorong Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMP Negeri 57 Surabaya, berinovasi mengolah limbah kulit bawang putih menjadi berbagai produk ramah lingkungan bernilai ekonomi. Proyek tersebut telah ia jalankan sejak Februari 2024, bermula dari keikutsertaannya dalam ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup tingkat SMP yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, mewakili sekolahnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menyatakan bahwa inovasi yang dilakukan Raihan sejalan dengan upaya Dispendik dalam membangun pola pikir kreatif dan inovatif peserta didik sejak usia dini.

“Ini merupakan bagian dari upaya kami mengedukasi anak-anak didik agar kepekaan dan daya pikir kreatifnya terus terasah. Dispendik secara periodik menyelenggarakan berbagai lomba, seperti karya ilmiah dan penelitian, untuk melatih kemampuan berpikir inovatif siswa,” ujar Febri sapaan akrabnya, Senin (19/1/2026).

Ia mengapresiasi capaian Raihan yang dinilai mampu melampaui pola pemanfaatan limbah secara umum. Menurutnya, pengolahan sampah organik kerap berhenti pada pembuatan kompos, sementara Raihan mampu melihat potensi lanjutan dari limbah kulit bawang putih.

Febri menambahkan, Dispendik juga membuka ruang kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya untuk mendukung pengembangan inovasi pelajar agar berkelanjutan. “Dengan hadirnya BRIDA, peluang kolaborasi semakin terbuka. Ini penting agar inovasi anak-anak memiliki jalur pengembangan yang jelas dan berkesinambungan,” imbuhnya.

Keberhasilan Raihan meraih predikat Pangeran II Lingkungan Hidup Kota Surabaya 2024, lanjut Febrina, menunjukkan bahwa Surabaya masih memiliki banyak pelajar dengan potensi luar biasa.

“Ini menjadi bukti bahwa kita masih punya banyak anak-anak dengan pemikiran hebat, bahkan mampu menjadi duta lingkungan hidup,” ungkapnya.

Ia menilai, inovasi yang dilakukan Raihan tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi. Limbah yang semula tidak bernilai mampu diolah menjadi produk yang berpotensi dikembangkan sebagai wirausaha sejak dini.

“Kami ingin anak-anak terbiasa berpikir kreatif dan solutif. Jika pola pikir ini terbentuk sejak dini, ke depan arah pengembangannya akan lebih jelas,” katanya.

Febrina berharap kisah Raihan dapat menjadi inspirasi bagi siswa lain di Surabaya dalam mengembangkan potensi diri dan kepedulian terhadap lingkungan. “Ini adalah success story salah satu anak didik kami. Harapannya, Raihan bisa menularkan semangat inovasi dan kepedulian lingkungan kepada teman-temannya,” ucapnya.

Ke depan, Dispendik juga akan mengupayakan dukungan lanjutan agar inovasi Raihan terus berkembang melalui pembinaan riset dan inovasi, termasuk dengan melibatkan BRIDA dan jejaring riset lainnya.

“Kami akan mencarikan ruang dan jalur agar bakat seperti ini bisa terus tumbuh. Anak-anak berprestasi seperti Raihan perlu pendampingan yang tepat agar potensinya berkembang maksimal,” terangnya.

Sementara itu, Raihan Jouzu Syamsudin mengungkapkan bahwa proyek pemanfaatan limbah kulit bawang putih bermula dari ketertarikannya saat mengikuti ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup.

“Dari situ saya tertarik mengolah limbah kulit bawang putih yang selama ini dianggap tidak bernilai,” ujar Raihan.

Pada tahap awal, Raihan memfokuskan pengolahan limbah tersebut menjadi tinta spidol ramah lingkungan. Seiring waktu, jumlah kulit bawang putih yang berhasil ia kumpulkan terus bertambah hingga mencapai sekitar 3,12 ton. Kondisi itu mendorongnya mengembangkan inovasi lanjutan berupa eco enzyme dan sabun cair.

Ia menjelaskan, ide tersebut tidak lepas dari bimbingan guru pembina yang melihat limbah pertanian sebagai potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, hasil panen bawang putih di Indonesia mencapai sekitar 81.805 ton per tahun, yang berbanding lurus dengan besarnya limbah kulit bawang putih yang dihasilkan.

“Dari hasil riset, kulit bawang putih yang dibakar secara tertutup dapat menghasilkan black carbon. Senyawa ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif tinta spidol yang lebih ramah lingkungan dan aman digunakan dalam jangka panjang,” jelasnya.

Proses pengolahan dimulai dengan menjemur kulit bawang putih hingga kering, lalu diperkecil ukurannya menggunakan blender. Selanjutnya, bahan dibakar secara tertutup hingga menghasilkan pigmen hitam, kemudian diayak dan dicampur dengan beberapa larutan hingga menjadi tinta spidol siap pakai.

Selain itu, Raihan juga memanfaatkan kulit bawang putih yang lembab atau berjamur akibat hujan untuk diolah menjadi eco enzyme agar tidak terbuang sia-sia. Dari eco enzyme tersebut, ia mengembangkan produk ketiga berupa sabun cair yang dirancang lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan pembusa berlebihan yang berpotensi mencemari perairan.

“Dukungan juga datang dari guru yang menyediakan fasilitas laboratorium IPA, mitra kerja sama, kampung binaan, serta orang tua yang membantu proses pengumpulan, pengolahan, hingga pemasaran produk,” ujarnya.

Produk-produk inovasi Raihan telah dipasarkan melalui pameran dan berbagai event lingkungan, salah satunya bersama Tunas Hijau Indonesia. Selain itu, produk juga dibeli oleh tetangga, teman, guru, mitra, serta dipasarkan melalui toko daring. Respons masyarakat pun dinilai sangat positif, terutama terhadap eco enzyme dan sabun cair.

“Ada tetangga yang sudah membeli sabun sampai tiga kali karena katanya wangi dan eco enzyme-nya bagus untuk tanaman,” tuturnya.

Meski ajang lomba telah usai, Raihan memastikan proyek pemanfaatan limbah kulit bawang putih tersebut masih terus berjalan hingga saat ini. “Tantangan terbesar adalah membagi waktu antara sekolah dan proyek, serta ketersediaan bahan pendukung yang terkadang sulit didapat,” pungkasnya.

Sebagai informasi, hasil penjualan produk dimanfaatkan kembali untuk pengembangan proyek, mulai dari pembelian bahan baku, wadah, peralatan, hingga kebutuhan promosi. Selain itu, Raihan juga memperoleh tambahan uang saku dari usahanya tersebut. Saat ini, tinta spidol berukuran 30 mililiter dijual seharga Rp15.000 per botol, sedangkan sabun cair ukuran 250 mililiter dipasarkan dengan harga Rp10.000 per botol. (*)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait