Cipayung, beritalima.com|- Posisi Iran setelah dua kali diserang oleh agresor Israel dan Amerika Serikat (AS), menjadi perhatian dunia internasional dan bahkan layak didaulat sebagai negara yang mampu memberikan warna alternatif dalam tatanan dunia baru kekinian.
Hal ini menjadi topik bahasan di Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta (11/4). Dalam sebuah diskusi bertema “Tatanan Dunia Baru? Pasca Gencatan Senjata & 40 Hari Syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei”, disemarakkan juga dengan peluncuran buku edisi terbaru Revolusi Iran, ditulis Dr. Nasir Tamara.
Acara ini menjadi menarik karena dihadiri Dubes Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdyi bersama Yahya Jahan Giri, Konselor Kebudayaan Kedubes Iran serta Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini.
Dalam acara ini, sejumlah narasumber ini yang berbicara adalah Nasir Tamara (Penulis Buku Revolusi Irandan Pakar Timur Tengah), Habib Zahir Yahya (Ketua Umum DPP Ahlul Bait Indonesia), Miftah Fauzi Rakhmat (Ketua Dewan Syura IJABI – Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) dan Subhi Ibrahim (Direktur PGSI – Paramadina Graduate School of Islamic Studies).
Acara dipandu Swary Utami Dewi dari Paramadina Center for Religion and Philosophy (PCRP), ddihadiri lebih 300 peserta, karena topik yang dibahas saat menarik bersamaan proses gencatan senjata antara AS dan Iran setelah perang lebih dari sebulan berlangsung dan berdampak besar bagi masyarakat Iran yang gugur syahid hampir dua ribu jiwa.
Dari diskusi ini bisa disimpulkan, apa yang sedang terjadi sekarang adalah percepatan tatanan baru dunia, yang didorong Iran, dengan pesan peradaban, kemanusiaan, dan keadilan. Bangsa Persia yang telah ada ribuan tahun silam sudah ada, menunjukkan sebuah peradaban tua dengan sederet perjalanan Panjang pukau dunia.
Menariknya, kini, masyarakat Iran sangat kompak, gotongroyong menopang pemerintahannya melawan aggressor AS dan Israel. Bahka dalam berita internasional terlihat, masyarakat justru sumbangkan sebagian kekayaannya (missal perhiasan, uang atau apapun) kepada negara sebagai bentuk partisispasi dalam berperang dalam musuh negara.
Jurnalis: abri/rendy








