Irma Lumiga Gaungkan Sirkel Ekonomi, Letjen Kunto Perkenalkan Teknologi Ramah Lingkungan

  • Whatsapp
Foto: Letjen TNI Kunto Arief Wibowo memberikan pemahaman tentang inovasi ekologi. (Doc.Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Komitmen mewujudkan Banyuwangi yang bersih sekaligus bernilai ekonomi kembali ditegaskan dalam sosialisasi inovasi ekologi yang digelar di Aula Kantor Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Selasa (24/2/2026) pukul 15.00 WIB.

Kegiatan yang diinisiasi Flona Tech tersebut dihadiri seluruh kepala desa se-Kecamatan Cluring, pengelola BUMDes, serta camat Cluring dan Muncar. Kehadiran lintas unsur ini menunjukkan kuatnya dukungan terhadap gerakan ekonomi berbasis desa.

Bacaan Lainnya

Dalam pemaparannya, Irma Lumiga menegaskan bahwa gerakan inovasi ekologi bukan hanya program kebersihan, melainkan langkah strategis membangun sirkulasi ekonomi dari pengelolaan lingkungan.

“Kami ingin Banyuwangi bersih dari sampah. Bukan hanya bersih secara fisik, tapi juga mampu menciptakan sirkel ekonomi dari pengelolaan sampah itu sendiri,” ujarnya.

Menurut Irma, sampah tidak lagi bisa dipandang sebagai beban daerah. Dengan pendekatan inovatif dan kolaboratif, limbah justru dapat diolah menjadi produk bernilai jual yang menopang ekonomi desa dan UMKM.

Mengusung tema Memberdayakan Kehidupan Melalui Inovasi Ekologis, sosialisasi tersebut juga memperkenalkan berbagai mesin pengolahan sampah, seperti mesin pencacah dan pemilah, mesin pencetak briket dan pelet, kompor biomasa, hingga mesin pengolah sampah 3 in 1.

Sementara itu, Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, yang menjabat sebagai Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I dan turut mendampingi program tersebut, menyampaikan bahwa teknologi serupa telah diterapkan di sejumlah daerah, khususnya di Jawa Barat.

“Pengolahan sampah ini menghasilkan briket yang bisa dimanfaatkan sendiri maupun memiliki nilai jual,” jelasnya.

Tak hanya fokus pada persoalan sampah, Kunto juga memperkenalkan teknologi pengolahan air. Mesin yang ditampilkan mampu menyaring air laut, sungai, maupun danau tanpa pengeboran, dan menghasilkan air layak minum. Dari proses tersebut bahkan dihasilkan limbah berupa garam, yang dapat dimurnikan tanpa bahan kimia, serta didukung mesin pencetak es kristal.

Dalam sesi wawancara, Kunto menekankan bahwa inovasi ekologi harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.

“Inovasi ini lebih kepada bagaimana mencari solusi. Setiap daerah berbeda etiologinya, tapi hampir sama kebutuhan dan permasalahannya. Kita mencoba menyentuh level menengah ke bawah dan UMKM di tingkat desa,” terangnya.

Ia mencontohkan, Banyuwangi saat ini menghadapi persoalan dominan pada sampah, sementara daerah lain memiliki tantangan berbeda, mulai dari pertanian, perkebunan hingga transportasi. Di Jawa Barat, misalnya, teknologi pengolahan sampah bahkan telah diterapkan hingga skala rumah tangga, termasuk inovasi pembuatan briket yang memiliki nilai ekonomis.

“Kita harus mampu mencari peluang di tengah kondisi yang dinamis. Sumber daya manusia dan lingkungan digabungkan dengan teknologi tepat guna, lalu dilindungi melalui sistem yang baik, maka akan tercipta kemandirian dan pemberdayaan wilayah,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pendampingan, kemitraan, serta partisipasi aktif masyarakat. Pemerintah, menurutnya, telah menyediakan wadah, namun keberlanjutan program sangat bergantung pada kolaborasi bersama komunitas dan kelompok pecinta lingkungan.

Dengan sinergi antara pemerintah, desa, pelaku UMKM, dan komunitas lingkungan, Banyuwangi diharapkan tak hanya bersih dari sampah, tetapi juga mampu mengubah persoalan lingkungan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.(Rony//B5)

beritalima.com

Pos terkait