BONDOWOSO, beritalima.com – Masyarakat Bondowoso masih mencermati kasus dugaan gangguan kesehatan massal yang dialami puluhan siswa di Kecamatan Sumberwringin beberapa waktu lalu.
Peristiwa tersebut terjadi setelah para siswa mengonsumsi menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dipasok oleh Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Al Hidayah 3, Desa Rejoagung, Kecamatan Sumberwringin.
Pada tahap awal, susu kedelai sempat diduga menjadi penyebab kejadian tersebut. Namun, hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso terhadap seluruh sampel makanan pada hari kejadian menunjukkan temuan yang berbeda.
Berdasarkan hasil uji laboratorium, menu tumis kacang labu terindikasi mengandung nitrit dalam kadar yang melebihi ambang batas yang dianjurkan. Nitrit merupakan senyawa yang penggunaannya perlu diawasi secara ketat karena dapat berdampak pada kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan.
Sementara itu, bahan makanan lain juga terdeteksi mengandung senyawa serupa, namun masih berada dalam batas yang diperkenankan. Temuan tersebut mengarah pada perlunya perhatian terhadap aspek pengolahan dan pendistribusian makanan, selain pemilihan bahan pangan itu sendiri.
Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Fathur Rozi, menyampaikan bahwa terdapat indikasi ketidaksesuaian dalam penerapan prosedur operasional standar (SOP). Menurutnya, kemungkinan tersebut dapat terjadi pada tahap pengolahan makanan.
“Ada potensi SOP dalam proses memasak yang perlu dievaluasi kembali,” ujarnya.
Selain proses memasak, durasi waktu antara pengolahan dan pendistribusian makanan juga menjadi perhatian. Dalam ketentuan SOP, makanan yang telah dimasak dianjurkan untuk melalui proses pendinginan sebelum dikemas. Apabila makanan dikemas dalam kondisi masih panas dan memerlukan waktu distribusi yang cukup lama, hal tersebut berpotensi memengaruhi kualitas makanan.
“Respons tubuh setiap penerima bisa berbeda, terutama jika kondisi kesehatannya sedang kurang baik,” tambah Fathur.
Insiden tersebut dilaporkan terjadi di lima sekolah dengan total 77 orang mengalami keluhan kesehatan, terdiri dari siswa dan guru. SPPG Al Hidayah 3 sendiri diketahui melayani sekitar 59 sekolah dengan jumlah penerima manfaat mencapai kurang lebih 3.400 orang. Fakta bahwa kejadian hanya terjadi di sebagian lokasi mendorong perlunya penelusuran lebih lanjut terhadap aspek teknis pelaksanaan di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh SPPG yang beroperasi di wilayah tersebut. SPPG Al Hidayah 3 telah kembali menjalankan operasionalnya setelah sebelumnya dihentikan sementara.
“Izin operasionalnya sudah kembali diterbitkan,” ujar Fathur.
Evaluasi ini diharapkan dapat menjadi langkah perbaikan guna memastikan pelaksanaan Program MBG berjalan sesuai standar keamanan pangan, sehingga manfaat program dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh penerima tanpa menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. (*)








