Kebenaran Hakiki dan Kebenaran Relatif

*OLEH: Haidar Alwi Institut (HAI)*

Kebenaran yang paling hakiki adalah “tiada wujud selain Tuhan”… bahwa segala sesuatu itu sebenarnya TIDAK ADA… yang ada hanyalah Tuhan, sejak sebelum adanya ciptaan, sampai saat ini, hingga yang akan datang.
Semua ciptaan…baik yang gaib maupun yang nyata…berasal dari Tuhan… dan merupakan manifestasi (tajalli) dari sifat Rahman dan Rahim-Nya.

Apapun yang kita punya adalah milik-Nya… yang hanya dipinjamkan kepada kita.
Kebenaran hakiki bersifat mutlak dan tidak dibatasi oleh waktu.

Sedangkan yang lain… termasuk kebenaran manusia, adalah kebenaran relatif, dan dibatasi oleh waktu.

Tak terhitung banyaknya contoh kebenaran di bidang medis, yang dulunya dianggap sebagai benar, saat ini dianggap salah.
Demikian juga “temuan medis” yang pada hari ini dianggap benar, sangat mungkin dikemudian hari justru disangkal oleh temuan lain yang lebih baru.

Dulu bakteri dalam usus manusia hanya dianggap sebagai kotoran saja. Tapi saat ini diketahui bahwa bakteri tersebut mempunyai manfaat yang besar, bahkan merupakan organ sendiri… tanpa bakteri manusia tdk bisa hidup…bakteri tersebut merupakan “makhluk cerdas” yang luar biasa bermanfaat untuk kesehatan manusia. Saat ini, Ilmu kedokteran modern di bidang Gastroenterologi, telah menemukan metoda “transplantasi feses” (memindahkan feses yg sehat kepada pasien yang sakit), untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang dulunya hampir mustahil untuk disembuhkan.
Dulu Air Susu Ibu dianggap cairan tubuh yg steril dari bakteri. Namun temuan terakhir menyangkal teori lama tersebut, dan membuktikan bahwa ASI mengandung bakteri yang berasal dari tinja ibu, yang secara ajaib melewati darah dan bermigrasi ke dalam kelenjar susu.

Banyak temuan ilmiah yg berubah secara dramatis, bahkan terbalik paradigmanya.

Teori dulu menganggap bahwa Bumi adalah pusat alam semesta, semua berputar mengelilingi Bumi. Kebenaran ini disebut teori geosentris yang dipopulerkan oleh astronom Yunani kuno Ptolemaeus (150 SM).
Pada tahun 1543, Nicolaus Copernicus, diperkuat oleh Galileo tahun 1610, mematahkan teori geosentris, dan membuat paradigma baru bahwa bukan Bumi sebagai pusat alam semesta, melainkan Matahari…disebut teori heliosentris.
Begitu dramatis perubahan paradigma tersebut untuk zaman itu, sehingga mempunyai konsekuensi hukuman mati bagi Galileo.
Meskipun begitu, teori heliosentris ini juga tak sepenuhnya benar karena Matahari hanyalah pusat tata surya, bukan alam semesta.
Selain Matahari, masih banyak bintang lain yang memiliki orbitnya sendiri sehingga tak mengelilingi Matahari. Pada akhirnya Matahari dan ratusan miliar bintang lainnya tidak diam, tetapi mengorbit pada pusat galaksi yang masih misteri.

Kebenaran dalam teori fisika klasik…seperti hukum Newton, dll…telah diperbaharui oleh teori fisika modern (Relativitas dan Mekanika Kuantum).
Tetapi bukan berarti fisika klasik itu tidak benar, hanya saja kebenarannya relatif.
Fisika klasik tetap berlaku jika variabelnya mendekati nilai umum yang kita gunakan sehari-hari.
Namun jika melibatkan kondisi yang ekstrem seperti jarak yang sebanding dengan ukuran atom atau kecepatan yang sebanding dengan kecepatan cahaya…fisika klasik tidak dapat digunakan.

Yang menarik adalah bahwa pada kondisi ekstrem tersebut…teori fisika modern…makin mengungkap sifat2 Tuhan yang bermanifestasi pada ciptaan-Nya. Menurut teori Relativitas, bila kita bergerak mendekati kecepatan cahaya, maka “waktu” akan melambat bahkan berhenti…dengan kata lain “kekal-abadi” yg merupakan sifat Tuhan.
Menurut teori Kuantum, partikel sub atom, seperti elektron proton, dalam satu saat bisa menempati dua tempat sekaligus…partikel memilih satu tempat tertentu tanpa aturan apapun (karena itu teori Kuantum disebut juga sebagai teori ‘ketidakpastian’).
Yang paling aneh adalah keberadaan partikel itu tergantung pada keingintahuan peneliti…semua itu merupakan sifat Tuhan, Yang Maha Ada, berada dimanapun, menempati setiap celah ciptaan-Nya yang sebenarnya TIDAK ADA dan hanya merupakan tajalli dari sifat2-Nya.

Sayangnya, saat ini, segala sesuatu hanya diukur dengan materi… semua yang gaib dan spiritual dianggap tahayul dan tidak masuk akal, sehingga dihilangkan dari perkembangan ilmu pengetahuan.
Aspek spiritual memang sulit untuk dibuktikan dengan metode pemikiran empiris, penerapannya membutuhkan kerendahan hati dan kemauan mempercayai yang mengatasi logika, yaitu keimanan.

Banyak hal lagi yang dulunya dianggap kebenaran, ternyata tidak sepenuhnya benar, atau bahkan keliru.

Karena itu jangan beranggapan bahwa diri kita yang paling benar sendiri… teori kita yang paling benar, teori lain adalah salah, penafsiran kita yang paling benar penafsiran lain adalah salah… menutup kemungkinan bahwa mungkin ada penafsiran lain…ingatlah bahwa kebenaran kita adalah relatif, kebenaran mutlak hanya milik Tuhan.

Wallahualam bissawab
*HAI*