GARUT, beritalima.com | Kebun Eptilu (F3/Fresh From Farm) merupakan kebun edukasi yang dikembangkan di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kebun ini menarik perhatian Bank Indonesia karena cara perawatannya beda dengan kebun hortikultura pada umumnya.
Kebun Eptilu dikembangkan dengan sistem teknologi pertanian canggih yang diadopsi dari Amerika Serikat. Sekarang ini kebun Eptilu mengelola lahan seluas 75 ha, setelah awalnya hanya 5 ha, terus berkembang jadi 18 hektar, dan dan berkembang lagi seluas 23 hektar.
Owner Eptilu, Rizal Fahreza, mengatakan, sebagai tempat edukasi, Eptilu memiliki 2 model pertanian. Ada yang dilakukan secara alami dan ada yang dengan teknologi. Hal ini dilakukan agar pengunjung bisa membandingkan perbedaannya.
Dipaparkan, di kebun Eptilu tanaman cabai dan tomat dikembangkan dengan teknologi tepat guna dan irigasi yang sangat baik. Hasilnya pun memiliki buah yang berkualitas, serta kuantitas yang bagus.
Sebagai perbandingan, cabai rawit yang ditanam alami, usia tanamnya hanya 8 bulan, yakni 4 bulan masa penanaman dan 4 bulan masa produksi. Daunnya kecil dan cenderung keriting serta menguning.
Sedangkan yang menggunakan teknologi, usia tanaman bisa mencapai 2-3 tahun, batang pohonnya tinggi hingga lebih 1,5 meter. Daun lebar dan hijau segar, serta cabainya sangat besar dan panjang.
“Teknologi yang digunakan untuk menanam cabai rawit ini saya peroleh dari Amerika Serikat. Kami menerapkan sistem teknologi ini pada green house. Misalnya air untuk menyiram menggunakan aplikasi yang bisa dikendalikan dari ponsel,” terangnya.
Teknik ini, kata Rizal, dikembangkan di lahan Eptilu melalui bantuan dari Bank Indonesia green house sejak 2022. Green house ini mampu menampung 4.000 pohon, dan sudah 2 kali tanam.
Di tanam pertama bisa bertahan selama 3 tahun, dan setelah masa 3 bulan dari tanam perdana sudah bisa dipanen. “Setiap minggu bisa panen dan sekali panen mampu di atas satu ton,” tutur Rizal.
Selama ini, produksi cabai dan tomat serta produk pertanian lain di Kebun Eptilu sangat melimpah, mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar, di samping disuplai ke DKI Jakarta dan Banten.
“Atas bantuan Bank Indonesia juga, Eptilu bisa melakukan kerja sama antar daerah untuk suplai produk hortikultura,” tandas Rizal.
Tidak hanya berkembang di sektor hulu, Kebun Eptilu juga mengembangkan usaha ke sektor hilir agar produksi tanaman hortikulturanya bisa memiliki nilai tambah melalui berbagai produk olahan seperti cabai bubuk, dan keripik kentang.
“Eptilu memang berkomitmen melakukan penguatan ekosistem pertanian dari hulu ke hilir,” tutup Rizal. (Gan)
Teks Foto: Owner Eptilu, Rizal Fahreza (kanan), di tengah tanaman cabai.








