Solo, beritalima.com| – Ngumpul, ngopi, ngeteh, ngemi, ngemil. Sederhana sekali untuk bahagia. Sebab untuk bahagia gak perlu negara. Untuk sejahtera gak perlu pilkada.
“Mangan kupat, ngombene kopi. Entek papat, mbayare lali”. “Kuat dilakoni, ora kuat ditinggal ngopi. Sing ora penting pikir keri”. Begitu guyonan ibuku, pagi ini usai lebaran beberapa hari. Di teras rumah, sambil “ngapal api”.
Sing penting “Kemruyuk!”. Mangan ora mangan, ngumpul. Dalam konteks politik kiwari, agaknya kabinet kita juga “kemruyuk”. Tak perlu dijelaskan dampaknya terhadap kondisi sosial politik, dan ekonomi. Riuh, gaduh, “noise”.
Ruang publik dibanjiri informasi setiap hari, tapi bangsa ini semakin tak mengerti apa seharusnya dimengerti. Tugas para pendengung, memang untuk berdengung seperti lebah. “Modal tahan dibuli, sedikit nurani, dorong komedi putar opini, dapat posisi”. Siklus untuk mendapatkan relasi kuasa yang sederhana sekali.
Pagi ini, saya ngopi di angkringan MJ, di pinggiran kota Solo. Tak lupa bawa buku. Bukunya adalah kumpulan sketsa karya Umar Kayam berjudul, “Mangan Ora Mangan Kumpul” terbitan Pustaka Grafiti Utama (1991). Tokoh pemeran Presiden Soekarno dalam film “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” ini dikenal sebagai budayawan yang mumpuni, dan sangat rendah hati.
Buku yang oleh ibuku terwakili dengan kata “Kemruyuk” itu, bercerita tentang Pak Ageng, seorang Profesor Fakultas Sastra UGM. Saat itu konon Pak Ageng, ya Umar Kayam itu sendiri. Pak Ageng tinggal bersama satu keluarga pembantu yang ia sebut sebagai kitchen cabinet, dengan dirjen kitchen cabinet bernama Mister Rigen, Ms. Nansiyem sebagai wakil, dan kedua anaknya sebagai anggota.
Dengan gaya tulisan yang ringan, santai, seloroh, tapi menohok, buku 458 halaman ini sarat dengan falsafah dan budaya Jawa. Diselingi sindiran-sindiran terhadap situasi sosial dan politik yang sedang berkembang di masyarakat.
Buku yang sudah berusia lebih dari 3 dekade ini, tetap relevan dibaca ulang. Apalagi dibaca dengan ngopi, ngemi, ngemil, sambil menunggu arus balik mudik. Untuk sementara ikutan Kemruyuk dulu di “Wisata Jokowi”.
Oleh Agung Marsudi, Solo, 5 April 2025







