Kerusakan Lingkungan di Sungai Progo, Warga Mengadu ke GKR Hemas  

  • Whatsapp
Kerusakan lingkungan di Sungai Progo, warga mengadu ke GKR Hemas (foto: DPD)  

Jakarta, beritalima.com|- Wakil Ketua DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu/GKR Hemas terima pengaduan warga terkait kerusakan lingkungan, terutama tebing di Sungai Progo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kerusakan tersebut mengancam Taman Doa Jatiningsih di Sumberarum, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman dan Taman Doa Wajah Kerahiman Kelurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY.

Ini disampaikan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Kevikepan Yogyakarta Barat, Keuskupan Agung Semarang, di Keraton Kilen kepada Hemas (16/2).

Pertemuan tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Kepala Dinas Pariwisata DIY, serta perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO).

Pimpinan KPKC Romo Adi Wibowo mengatakan kerusakan tebing di Bantaran Sungai Progo sangat memprihatinkan, sehingga perlu dibangun tebing penguat sungai. “Erosi selalu terjadi hampir di setiap tahun terutama karena hujan yang terus-menerus dan cuaca yang tidak memungkinkan,” terangnya.

Hemas menyampaikan persoalan sungai merupakan problem struktural yang telah lama terjadi. Pengerukan yang selama ini dilakukan bukan di pinggir sungai tetapi justru di tengah yang menjadi bantalan dari jembatan. ”Kalau disedot tengahnya, pasti runtuh ke samping-samping. Itulah penyebab lebih cepatnya erosi di tebing tersebut,” urai Hemas.

Jadi, Hemas menyarankan dinas terkait segera membangun batu-batu penyangga. Namun, GKR Hermas sadar program tersebut terbentur keterbatasan anggaran akibat kondisi fiskal nasional yang berdampak luas pada daerah.

“Terus terang kita ini di dalam penganggaran APBN ini luar biasa, Pak. Semua lembaga itu dipotong (anggarannya-red), dan ini juga dialami semua daerah, sehingga perlu komunikasi bertahap dengan pemerintah pusat,” jelasnya.

Dari sisi teknis, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSO Vicky Ariyanti menuturkan adanya kegiatan perbaikan ground seal di Sungai Progo serta peluang penanganan darurat melalui beronjong (penahan arus air) berbasis dana kebencanaan.

“Kalau memang berharap di tahun ini bisa, itu ya bisanya dari dana bencana dulu yang bisa jalan,” jelasnya, seraya menambahkan pentingnya pembaruan survei lapangan untuk menghitung kebutuhan aktual.

Vicky menyampaikan hasil kajian dampak penambangan pasir. “Memang ada penurunan degradasi sungai itu antara 20 sampai 50 cm per tahun yang mempengaruhi stabilitas dasar sungai dan tebing,” ungkapnya.

Hal lain dibahas upaya pelestarian alam melalui bantuan bibit pohon. Kepala Dinas LHK DIY, Kusno Wibowo menyebut pada 2025 telah memberikan dukungan berupa 6.000 bibit pohon. Kedepannya, pihak gereja memohon dukungan lanjutan untuk kelola lahan seluas 2,5 hektar milik Keuskupan Agung Semarang yang direncanakan sebagai laboratorium alam tanaman langka.

Menanggapinya, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Aris Eko Nugroho menyatakan kesiapan dukungan berupa bibit kelapa genjah yang mulai produktif dalam waktu tiga tahun sebagai bagian dari upaya konservasi dan pemberdayaan ekonomi. “Tahun ini kami sampai di bulan Februari ini masih ada bibit stok kami, ada bibit tanaman itu kurang lebih di 25.000 bibit sampai di bulan ini,” ucapnya.

Jurnalis: rendy/abri

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait