Jakarta | beritalima.com – Primordialisme, sepanjang manusia itu masih hidup pasti ada jiwa egois primordialnya. Namun ketika bicara primordial tidak bisa dilihat dari satu sisi melainkan dilihat dari berbagai dimensi karena sifatnya general. Misalnya paguyuban etnis dan lain sebagainya.
Tiap etnis pasti memiliki jiwa jiwa primordial namun primordial ini terbagi dua yakni primordial positif dan primordial negatif. Primordial negatif mengarah pada kebablasan yang tidak lagi melihat dengan proporsional melainkan hanya dengan ada kedekatan etnis saja.
Padahal satu kedekatan primordial etnis saja bisa mengganggu elemen elemen bangsa. Oleh karena itu diminta Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Provinsi DKI Jakarta, A. Syamsul Zakaria, S.H., M.H kepada Pemerintah, Negara tidak boleh memelihara primordial negatif tapi harus memelihara primordial positif dalam konteks kepentingan bangsa.
“Ketika dia dilandasi dengan fondasinya primordial negatif maka akan melakukan tindakan-tindakan negatif yang lebih mementingkan kelompoknya, etnisnya daripada mementingkan kepentingan umum. Apalagi kalau fanatisme ke daerah-daerah yang tadi dibangun itu negatif karena satu kampung,” tandas Syam Jack panggilan akrabnya, Kamis (29/1/2029).
Menurutnya itu baru suku, belum bidang lain yang menyangkut jabatan pekerjaan tidak memenuhi potensi malah bisa dipatahkan agar karirnya tidak lanjut. Begitu juga dengan perebutan lahan atau lapak kerap terjadi konflik horizontal dimana mana.
“Disitulah perlunya hadir negara ya, perlunya hukum disitu supaya untuk meminimalkan yang namanya primordial dan yang bisa berujung komplik. Tapi dunia hukum sudah tidak berfungsi dan tidak lagi bergerak. Itulah terjadi komplik primordial dimana-mana,” terangnya.
Ditambahkan Syam Jack, di Indonesia ini tidak akan seperti itu yang penting payungnya bagaimana menciptakan harmonis yang tegas untuk penegakkan itu agar tidak ada lagi oknum baru.
Jurnalis: Dedy Mulyadi








