Ketua Komnas Perempuan Apreasiasi Film Suamiku, Lukaku, Gambarkan Realitas Kasus KDRT

  • Whatsapp
Ketua Komnas Perempuan apresiasi Film Suamiku, Lukaku, Gambarkan kasus KDRT (foto: istimewa)

Jakarta, beritalima.com|- Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfa Anshori menyampaikan film Suamiku, Lukaku menunjukkan realitas dari kasus-kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) di Indonesia yang merupakan bentuk kekerasan kepada perempuan terbanyak, termasuk kekerasan seksual dalam pernikahan.

“Kita berterima kasih kepada SinemArt yang sudah memproduksi sebuah film yang luar biasa. Ini betul-betul menggambarkan situasi keseharian yang selama ini dianggap sebagai sebuah aib, selama ini dianggap memalukan kalau diceritakan, tetapi justru dibuka untuk pendidikan kepada publik bahwa kekerasan terhadap perempuan di dalam rumah tangga harus dihentikan,’ kata Ulfa, dalam diskusi serta preview film Suamiku, Lukaku di Universitas Bung Karno, Jakarta (8/1).

Acara yang digelar Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) menggandeng Universitas Bung Karno (UBK) berkolaborasi dengan SinemArt, Tarantella Pictures, The Big Pictures dan Women’s Crisis Center (WCC) ini, menghadirkan para pemain, produser film serta kalangan akademis.

Dari data Komnas Perempuan, setiap tahun rata-rata Lembaga ini menerima 4600an kasus kekerasan  terhadap perempuan, termasuk kasus KDRT, dengan faktor penyebab utama adalah ideologi patriarki yang memahami bahwa laki-laki adalah sosok yang sempurna, perempuan adalah orang di posisi kedua.

“(Penyebab) kedua adalah faktor sosial, ekonomi dan lain-lain adalah nomor sekian, tapi yang utama adalah ideologi patriarki karena dari budaya patriarki ini dampaknya merugikan yang lemah,“ ujar Ulfah, yang menyebut kini Indonesia telah memiliki payung hukum menjamin perempuan sehingga menjadi korban KDRT dapat mengajukan perceraian.

Menyadari film dapat menjadi sebuah media yang dapat membangun empati, simpati dan sebuah gerakan bersama, SinemArt yang terkenal dengan produksi-produksi sinetronnya memutuskan mengangkat isu KDRT ke layer lebar lewat film Suamiku, Lukaku kata Produser Eksekutif dan CEO SinemArt David S. Suwarto.

“Kita berharap dengan film Suamiku, Lukaku, kita bisa mengangkat tema ini untuk membawa kesadaran memecah kesunyian sekarang dan seterusnya, supaya tidak ada lagi korban-korban, supaya suvivors dari KDRT itu bisa menemukan sebuah solusi,” tutur David.

Aktor dan juga komedian Mieka Amalia dalam diskusi mengkonfirmasikan bahwa dirinya pernah menjadi korban KDRT yang tidak berani bicara. Berbagai bentuk KDRT yang digambarkan di film Suamiku, Lukaku pernah dialaminya. Keberanian untuk mengakhiri KDRT yang dialami muncul setelah melakukan konsultasi psikologi.

Diskusi bertema “Kenali KDRT, Ajakan Berhenti Diam Melalui Preview Film Suamiku, Lukaku “digelar di Aula Dr. Ir. Soekarno, UBK, menghadirkan pembicara Ketua Komnas Perempuan Dr. Maria Ulfah Anshor, M.Si., Produser Eksekutif dan CEO SinemArt David S. Suwarto, Advokat dan Direktur WCC Puantara Siti Husna Lebby Amin, S.H., M.H., Aktor Mieke Amalia dan Komedian Chika Waode.

Rektor UBK Dr. Ir. Sri Mumpuni Ngesti Rahaju, M.Si turut apreasi kolaborasi yang terjalin untuk mengadakan sebuah diskusi edukasi terkait KDRT yang menggunakan film sebagai media pengantar dimana sebentar lagi Suamiku Lukaku akan tayang di bioskop nasional.

“Melalui film Suamiku, Lukaku kita diajak untuk melihat realitas tersebut dengan lebih jujur dan empati. Film bukan sekedar tontonan, tetapi dapat menjadi media refleksi, edukasi dan advokasi, mampu menyentuh sisi emosional kita, menggugah kesadaran serta ruang yang selama ini mungkin sulit untuk dimulai,” ungkap Dr. Sri Mumpuni.

Jurnalis: abri/rendy

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait