Jakarta, beritalima.com| – Persiapan libur Mudik Lebaran 2026 kembali diuji, dimana Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda menyatakan, perbaikan infrastruktur jalan, khususnya jalur arteri, tak boleh lagi menjadi pekerjaan musiman yang baru dikebut menjelang arus mudik.
Menurutnya, lubang-lubang di jalan arteri akibat beban kendaraan besar harus segera ditangani sebelum jutaan pemudik memadati jalur darat. Jika tidak, risiko kecelakaan dan kemacetan panjang akan kembali menjadi catatan kelam tahunan.
“Di PU misalnya kami minta jalan arteri yang berlubang-lubang karena faktor selalu dilewati oleh truk-truk besar, kita ingin itu betul-betul diantisipasi dan diperbaiki. Kami nanti setelah masuk masa sidang tanggal 9 akan kami undang, sudah sampai berapa persen yang sudah bisa diperbaiki dari lubang-lubang jalan ini,” ujar Huda kepada media usai Diskusi Dialektika Demokrasi di Jakarta (5/3).
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa Komisi V akan meminta laporan konkret dari Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Publik tentu berharap evaluasi bukan sekadar formalitas, melainkan benar-benar mendorong percepatan perbaikan di lapangan.
Huda menekankan evaluasi mudik tahun sebelumnya harus menjadi pijakan utama perbaikan layanan tahun ini. Ia menyoroti program mudik gratis yang kerap menyisakan kursi kosong akibat pendaftaran ganda.
Menurut politisi Fraksi PKB itu, penerapan sistem satu akun (single account) harus diperkuat agar tidak ada lagi calon pemudik yang mendaftar di berbagai platform sekaligus. Tanpa integrasi data, potensi pemborosan anggaran dan ketidaktepatan sasaran akan terus berulang.
“Target rencana untuk memberi fasilitasi mudik gratis, kita minta supaya semua bangku terisi dengan baik. Itu artinya harus melibatkan semua stakeholder, termasuk single account sebenarnya, supaya jangan sampai ada yang daftar di berbagai tempat akhirnya ketersediaan kursi kita kosong,” jelasnya.
Di sisi lain, Huda mengapresiasi kebijakan penurunan harga tiket pesawat yang mencapai diskon 18 persen. Kebijakan ini dinilai dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendistribusikan kepadatan pemudik yang selama ini bertumpu pada jalur darat.
Namun, persoalan keselamatan tetap menjadi perhatian. Ia meminta aparat kepolisian memperketat pengawasan kendaraan tidak layak jalan atau yang kerap disebut “mobil zombie” melalui checkpoint di titik-titik strategis.
Tak kalah penting, pembaruan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) harus terus disampaikan secara masif. Potensi hujan, banjir rob, hingga jalan licin di sejumlah jalur mudik perlu diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan korban.
“BMKG sudah mengupdate bahwa dalam masa mudik ini cuaca kita akan hujan. Karena itu harus diantisipasi titik banjir termasuk banjir rob di beberapa tempat termasuk potensi jalan licin. Update ini perlu terus nyampe ke para calon pemudik kita,” pungkasnya.
Mudik bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan pergerakan manusia terbesar di Indonesia yang mempertaruhkan keselamatan jutaan jiwa. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dituntut bekerja lebih dari sekadar rutinitas. Sebab publik tak lagi butuh janji. Yang dibutuhkan adalah jalan yang benar-benar mulus dan sistem yang benar-benar siap
Jurnalis: rendy/abri








