Krisis Kesadaran Musuh Utama Banyak Negara Saat ini

  • Whatsapp
Prof Connie (kanan): Krisis kesadaran musuh utama banyak negara saat ini (foto: praksis)

Jakarta, beritalima.com|- Di tengah berkecamuknya berbagai konflik internasional yang berkembang saat ini, salah satu pemicunya adalah krisis kesadaran bagi para pemimpin dunia.

Hal ini dibahas secara mendalam oleh Professor Connie Rahakundini Bakrie dalam Forum Praksis seri ke-16 di Jakarta (24/1), sekaligus mengupas buku terbarunya berjudul From the Dream of Civilization to the Birth of a Conscious Nation.

Connie, yang kini menjabat Guru Besar Universitas St. Petersburg Rusia, mengatakan, istilah conscious nation atau bangsa yang berkesadaran yang ia gunakan bukanlah istilah politik melainkan istilah moral.

Itu sebabnya, ujar Connie, banyak kawasan dunia sekarang sering mengeluh tentang sedang terjadinya krisis sistem. Padahal yang terjadi sekarang bukannya krisis sistem. Tapi, sambung Connie, adalah krisis kesadaran, khususnya kesadaran menciptakan kehidupan bersama yang landasannya adalah jiwa yang utuh, hati adil, dan tujuan hidup yang lengkap.

Sementara sistem yang rusak bisa dengan mudah diperbaiki, kesadaran yang tumpul hanya akan menimbulkan kekerasan yang dilegalkan. Berhadapan dengan krisis demikian, kita tidak boleh memandangnya sebagai tanda akan berakhirnya peradaban.

Itu sebabnya,.Connie mengajak perlunya melahirkan peradaban baru, yakni peradaban yang lebih berkesadaran, lebih rendah hati, dan lebih berbelas kasih.

“Sebuah bangsa yang berkesadaran adalah sebuah bangsa yang pemerintahnya sadar akan batas-batas kuasanya, yang hukum-hukumnya lahir dari nurani yang jernih, dan yang kepemimpinannya berangkat dari tanggung jawab batin,” jelasnya dalam diskusi yang dipandu Dr Baskara Wardaya.

Menurut Connie, bangsa yang berkesadaran tidak melarang para pemimpinnya untuk hadir di kancah global. Yang dilarang adalah kehadiran hanyq lahir dari sekedar kegelisahan ego. Bagi sebuah bangsa yang berkesadaran, pengaruh sejati dari para pemimpinnya di panggung dunia tidak dicapai dengan cara “melompat keluar dari diri-sendiri”, melainkan dengan menyelesaikan-diri, hingga dunia tak punya pilihan selain kagum.

Lalu, bagi Connie, “negara adalah cermin jiwa manusia-manusia yang membangunnya”. Betapa pun kuatnya sebuah negara, jika manusia-manusia yang membangunnya kehilangan kesadaran, negara tersebut hanya akan menjadi mesin tanpa jiwa.

Connie mengambil contoh pernyataan Presiden Soekarno soal “kemanusiaan baru” pasca-kolonial. Kemanusiaan baru dimaksud bukan hanya yang menolak dominasi asing dan memperjuangkan kedaulatan, melainkan yang juga berakar kuat dalam kosmologi Nusantara, tumbuh dari kearifan lokal di tanah air.

Jurnalis: abridedy

 

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait