Kurikulum Penanggulangan Dampak Bencana Mulai Diterapkan di Daerah Terdampak

  • Whatsapp
Kurikulum Penanggulangan Dampak Bencana mulai diterapkan di daerah terdampak (foto: kemendikdasmen)

Jakarta, beritalima.com| – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terapkan Kurikulum Penanggulangan Dampak Bencana di wilayah terdampak (tiga provinsi Sumatera, yakni Aceh, Sumut dan Sumbar), sebagai langkah strategis untuk memastikan layanan pendidikan tetap berjalan di tengah situasi krisis.

Kebijakan ini fokus pada penguatan kemampuan minimum bagi anak, seperti literasi dan numerasi dasar, kesehatan dan keselamatan diri, serta dukungan psikososial, melalui pembelajaran sesuai dengan lingkungan didampingi tenaga pengajar yang handal.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan beberpa waktu lalu purna bencana di Sumatera, “dengan menyesuaikan kebijakan terhadap kondisi lapangan serta memperkuat peran pemerintah daerah dan satuan pendidikan, Kemendikdasmen memastikan setiap anak tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan melanjutkan pendidikannya, meskipun berada dalam situasi yang penuh keterbatasan.”

Kemendikdasmen menyiapkan bahan ajar darurat, menerapkan pembelajaran adaptif di ruang terbatas, serta mengintegrasikan dukungan psikososial dalam proses pembelajaran. Sistem asesmen difokuskan pada kehadiran, keamanan, dan kenyamanan murid.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Toni Toharudin menjelaskan, “pada tiga bulan pertama, fokus diarahkan pada penyederhanaan kurikulum menjadi kompetensi minimum esensial, penyediaan bahan belajar darurat, pembelajaran adaptif di ruang terbatas, dukungan psikososial, serta asesmen sederhana yang menekankan keamanan dan keterlibatan murid.”

Selanjutnya, tambah Toni, “pada periode tiga hingga dua belas bulan, kebijakan diarahkan pada pemulihan kemampuan dasar murid melalui kurikulum adaptif berbasis krisis, program remedial intensif, pembelajaran fleksibel, serta asesmen transisi berbasis portofolio dan perkembangan sosial-emosional.”

Memasuki fase pemulihan dini dalam rentang waktu satu hingga dua belas bulan, kurikulum dikembangkan menjadi kurikulum adaptif berbasis krisis. Pada tahap ini, mitigasi bencana mulai diintegrasikan ke dalam mata pelajaran, disertai program pemulihan pembelajaran.

Proses pembelajaran digelar lebih fleksibel, tidak ketat aturan, jadwal sesuai kondisi peserta didik. Asesmen transisi diterapkan dengan penekanan pada perkembangan sosial dan emosional murid. Lalu, dalaam jangka menengah hingga panjang, yakni fase pemulihan satu hingga tiga tahun, pendidikan kebencanaan akan diintegrasikan secara permanen ke dalam kurikulum.

“Pendekatan ini diarahkan untuk memperkuat kualitas pembelajaran, membangun ekosistem pendidikan yang tangguh, serta didukung oleh sistem pemantauan dan evaluasi pendidikan darurat,” ujarnya.

Selain itu, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran BSKAP telah menyusun Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan sebagai rujukan bagi satuan pendidikan dalam meningkatkan kewaspadaan pada tahap prabencana, saat bencana, dan pascabencana.

“Peta jalan kebijakan pascabencana ini memastikan pemulihan pendidikan berlangsung secara berkelanjutan, tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat ketahanan satuan pendidikan di masa depan,” ungkapnya.

Jurnalis: abri/dedy

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait