Legeislator Amelia: Jangan Korbankan Fakta demi Judul Panas

  • Whatsapp
Legeislator Amelia Anggraini (kanan): Jangan korbankan fakta demi judul panas (foto:kwp)

Jakarta, beritalima.com| – Anggota Komisi I DPR RI, Amelia Anggraini, mengingatkan insan pers agar tidak terjebak pada praktik insinuasi dalam penulisan berita, berakibat fakta dikorbankan demi pemilihan judl berita yang panas. Ia menilai, kesimpulan yang melompat dari fakta serta sering menggiring opini adalah “racun” yang dapat merusak reputasi seseorang sekaligus memperkeruh ruang digital di era algoritma saat ini.

Pernyataan itu disampaikan Amelia dalam Diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Waspada Berita Hoax di Media Sosial, Cerdas Menyaring Informasi di Era Digital” yang digelar Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bersama Biro Pemberitaan DPR RI di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta (18/2).

“Insinuasi itu adalah racun jurnalistik modern. Jangan sampai judul dibikin panas dan jadi bias, padahal narasinya tidak seperti itu. Saya sebut patokan sederhana untuk menghindarinya dengan 3F: Fakta dulu, Fondasi sumber yang jelas, lalu Framing-nya harus fair dan adil,” ujar politisi Fraksi NasDem tersebut.

Menurutnya, fenomena klarifikasi atas berita bohong yang belakangan marak justru menjadi alarm keras bagi dunia pers. Klarifikasi, kata dia, sering kali kalah cepat dibanding penyebaran konten awal yang sudah lebih dulu viral dan membentuk opini publik.

Amelia soroti tantangan baru di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI). Hoaks, lanjutnya, kini tidak lagi sebatas teks manipulatif, melainkan sudah merambah pada suara dan wajah yang dapat ditiru secara meyakinkan melalui teknologi. Dalam konteks ini, jurnalisme dituntut semakin disiplin dan bertanggung jawab.

“Potensi hoaks dengan bantuan AI itu paling mudah dibuat. Peran kawan-kawan pers sangat penting bagi stabilitas keamanan nasional. Perang modern saat ini tidak hanya melalui senjata, tapi bisa melalui narasi misinformasi,” jelasnya.

Ia menegaskan, hoaks dan disinformasi kini kerap menjadi instrumen dalam perang modern untuk memecah belah bangsa dan menciptakan polarisasi. Karena itu, media dituntut tidak sekadar cepat, tetapi juga akurat dan berimbang.

Di sisi lain, Amelia menyebut Komisi I DPR RI terus mendorong keseimbangan antara penindakan tegas terhadap hoaks dan perlindungan kebebasan berekspresi. DPR, katanya, tengah merumuskan berbagai regulasi terkait ketahanan digital guna membangun ekosistem media—baik digital maupun konvensional—yang sehat dan bertanggung jawab.

“Di era digital kita tidak hanya melawan hoaks, kita sedang menjaga martabat ruang publik. Kawan-kawan jurnalis adalah penjaga terdekat ruang publik itu dengan menyajikan berita yang benar dan bertanggung jawab,” ungkapnya.

Jurnalis: rendy/abri

beritalima.com

Pos terkait