Jakarta, beritalima.com|- Anggota Komisi III DPR RI Adang Daradjatun, soroti terbatasnya masa Pendidikan Bintara Polri, sehingga berdampak ke pembinaan karir berikutnya. “Kita fair saja di ruangan ini, dengan lima bulan apa yang diharapkan? Terus terang saja, kalau pendidikan Bintara hanya lima bulan sekarang, berat sekali,” katanya.
Bahkan, Adang secara terbuka menyampaikan, dengan keterbatasan hasil dari pendidikan singkat tersebut, “kalau seorang polisi dididik cuma lima bulan, dia cuma bisa hormat, baris, lari, betul nggak?” kritiknya. Adang menilai, durasi pendidikan Bintara Polri yang saat ini terlalu singkat. Menurutnya, waktu tersebut tak cukup membentuk kompetensi dasar kepolisian yang memadai.
Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Kalemdiklat Polri dan Gubernur Akpol di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Jakarta (2/4). Mantan Wakapolri ini menyinggung pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia di tubuh Polri, khususnya melalui perbaikan sistem pendidikan dan dukungan anggaran.
Dalam paparannya, Adang menekankan, reformasi Polri tak hanya soal perubahan struktur dan instrumen, tapi juga menyangkut aspek kultur sebagai faktor kunci. “Kalau kita berbicara tentang reformasi Polri, itu sejarahnya adalah perubahan instrumen, struktur, dan kultur. Instrumen sudah ada undang-undang kepolisian, struktur sudah keluar dari ABRI. Nah, kultur ini ada di beliau-beliau ini,” ujar Adang.
Ia secara tegas menyatakan dukungannya terhadap permintaan tambahan anggaran bagi Polri, terutama untuk menunjang peningkatan kualitas pendidikan anggota. Politisi Fraksi PKS itu menegaskan, Bintara merupakan tulang punggung institusi Polri, sehingga kualitas pendidikan mereka harus menjadi perhatian utama.
“Mayoritas dan kekuatan Polri, tulang punggungnya ada di Bintara-Bintara Polri. Jadi saya mendukung anggaran, dan lebih-lebih tolong dipikirkan perpanjangan pendidikan bagi Bintara,” jelasnya.
Selain itu, ia mempertanyakan keberlanjutan pendidikan spesialis di Polri, seperti pendidikan reserse dan intelijen yang dahulu dikenal memiliki kualitas tinggi. “Saya ingin bertanya, apakah pendidikan-pendidikan spesialis itu masih berjalan? Karena kalau tidak diteruskan oleh sekolah lanjutan yang spesifik, terjadilah kasus-kasus yang sekarang Komisi III temukan,” ungkap Adang.
Jurnalis: abri/rendy








