Penghargaan tersebut diumumkan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-52 Pemkab Gresik dan Hari Jadi ke-539 Kabupaten Gresik.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani atau biasa disebut Gus Yani, menyampaikan, capaian tersebut tidak lepas dari partisipasi aktif masyarakat dalam membangun kesadaran kolektif terhadap pengelolaan sampah.
“Penghargaan ini berasal dari partisipasi masyarakat Gresik. Ini berawal dari perubahan mindset, dari sampah menjadi sumber daya,” ujarnya.
Ia berharap pola pengelolaan sampah dapat diterapkan lebih luas, mulai dari lingkungan sekolah, perumahan, hingga perkantoran dan perbankan.
“Saya minta bank dan di dunia perkantoran juga ikut peduli. Urusan sampah semua pihak,” tegasnya.
Menurutnya, kawasan industri juga memiliki peran penting dalam sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.
“Saya minta di kawasan dibangun pengelolaan sampah juga. Mudah-mudahan Gresik semakin sukses, semakin berkah, semakin sejahtera,” imbuhnya.
Sebagai bentuk apresiasi atas kerja petugas kebersihan dan pertamanan, Pemkab Gresik menggelar Kirab Adipura, Jumat (27/02). Kirab dipimpin langsung Bupati Yani bersama Wakil Bupati Asluchul Alif, didampingi jajaran Forkopimda dan kepala OPD.
Dengan menaiki becak listrik, rombongan bergerak dari Gelora Joko Samudro, melintasi Jalan Veteran, Jalan Panglima Sudirman, dan Jalan J.A. Suprapto, kemudian berakhir di Wahana Ekspresi Poesponegoro.
Pasukan kebersihan dan pertamanan berada di barisan terdepan sebagai simbol bahwa penghargaan tersebut lahir dari dedikasi mereka.
Kabupaten Gresik tercatat sebagai satu dari 35 kabupaten/kota di Indonesia yang berhasil meraih penghargaan tersebut. Capaian ini menempatkan Gresik dalam jajaran daerah yang dinilai berhasil membangun sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Bupati Yani menegaskan penghargaan tersebut merupakan hasil kolaborasi seluruh elemen masyarakat, terutama para petugas lapangan.
“Hari ini kita tidak sekadar membawa penghargaan. Kita membawa penghormatan untuk panjenengan semua yang setiap hari memastikan Gresik tetap bersih,” tuturnya.
Salah satu faktor penilaian adalah keberhasilan Gresik mengelola sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), yakni energi terbarukan pengganti batu bara yang disinergikan dengan PT Semen Indonesia sebagai offtaker. Skema tersebut menjadikan sampah sebagai sumber daya sekaligus mendukung transisi energi yang lebih ramah lingkungan.
Sebagai bentuk apresiasi, Kementerian Lingkungan Hidup menyerahkan tiga unit motor pengangkut sampah kepada Kabupaten Gresik. Dalam momentum kirab, kendaraan tersebut didistribusikan kepada wilayah dan lembaga berprestasi.
Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu, menerima satu unit motor sebagai desa terbaik dalam pengelolaan sampah melalui gerakan pembuatan biopori di setiap rumah. Program ini diperkuat dengan kebijakan penundaan pencairan bantuan sosial bagi warga yang tidak melaksanakan kewajiban tersebut.
Kelurahan Sukorame, Kecamatan Gresik, menerima satu unit motor sebagai Kelurahan Proklim terbaik yang konsisten menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Dukungan juga diberikan kepada lingkungan pesantren. Satu unit motor diserahkan kepada Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Kecamatan Dukun, atas keberhasilannya mengelola sampah anorganik, serta tambahan satu unit motor kepada Pondok Pesantren Darut Taqwa Suci atas komitmennya dalam penguatan pengelolaan sampah di lingkungan pondok.
Dalam kesempatan tersebut, Pemkab Gresik turut menyerahkan bantuan sembako kepada pasukan kebersihan dan pertamanan sebagai bentuk perhatian atas kerja keras mereka.
Selain itu, Bupati Gus Yani menyampaikan gagasan penerapan deposit refund system untuk botol minuman kemasan guna mendorong pengurangan sampah plastik melalui skema insentif pengembalian dana.
“Sampah bukan hanya urusan pemerintah. Ini tanggung jawab bersama, mulai dari rumah tangga, sekolah, pesantren, perkantoran hingga kawasan industri,” tegasnya.







