Jakarta, beritalima.com| – Tepat pada 22 Februari 1978, Masjid Istiqlal di Jakarta dahulu diresmikan, yang menjadi cermin toleransi beragama di Indonesia. Bukan saja karena besarnya masjid yang bisa menampung lebih 200 ribu orang dan terbesar di Asia Tenggara, tapi karena posisinya yang berhadapan langsung dengan Gereja Katedral. Masjid ini menjadi kebanggaan nasional dan juga internasional.
Dengan usianya yang ke-46 tahun pada Februari ini, masjid yang digagas Presiden Soekarno purna kemerdekaan (Desember 1945), belum lama ini mengalami renovasi cukup besar pada 2019 dengan biaya sekitar 500 miliar rupiah dan kembali dibuka umum di 2021 dengan sebutan The New Istiqlal.
Uniknya, saat dibuka sayembara bagi arsitek anak bangsa untuk membangun Istiqlal, pemenangnya pada 1955 adalah Friedrich Silaban (1912-1984), pemuda Kristen asal Sumatera Utara. Tampak sekali sejak awal berdirinya, Istiqlal telah membawa nilai toleransi lintas agama. Kubah yang diracang Silaban berdiameter 45 meter, sebagai symbol tahun Proklamasi Kemerdekaan 1945.
Istiqlal sendiri merupakan sebuah singkatan dengan sarat makna. I bisa diartikan dengan Iman. S adalah Shalat. Lalu T identik dengan Taqwa. I dengan Ihsan, Q bermakna Qalbu. L artinya lurus, A dengan Aman dan terakhir L berarti La Haula Walla Quwwata Illa Billah (tiada daya dan kekuatan melainkan hanya karena pertolongan Tuhan/Allah).
Kini, The New Istiqlal hadir dengan beragam kegiatan inklusif, mengedepankan konsep masjid ramah lingkungan dan berkelanjutan. Di bawah kepemimpinan Imam Besar Nasarudidn Umar (yang juga Menteri Agama), Masjid Istiqlal kerap menjadi simbol keberagaman. Ketika Paus Fransiskus tiba di Indonesia (Jakarta), sempat berkunjung ke Istiqlal dan Katedral serta melihat langsung Terowongan Silaturahmi (2024) yang menghubungkan kedua rumah ibadah ini.
Menurut Ahsanul Haq, Direktur Utama Istiqlal Global Fund (IGF), Imam Besar Prof Nasar inginkan semua kegiatan di masjid ini harus punya nilai lebih. “Misalnya Itiqaf yang berkualitas. Bagaimana Berbuka puasa yang menyentuh semua pihak, punya nilaibagisemua pihak. Karena ini adalah pertemuan antara tangan diatas dan tangan dibawah. Orang yang mendapatkan sedekah dan akan memberikan sedekah secara siri atau diam-diam (tidak kelihatan),” jelas Ahsanul.
Oleh karenanya, saat Ramadhan tiba, banyak donator, dermawan, perorangan, korporasi, berbondong-bondong datang untuk melakukan kegiatan sosial di masjid yang memberikan pelayanan buka puasa bersama gratis lebih dari 3000 jiwa setiap harinya (bahkan 5000 mendekati akhir Ramadan). Di sini tugas IGF mengatur semua kegiatan agar menjadi guyub, gotongroyong, semuanya sama mendapat pahala.
Jurnalis: abriyanto







