Yogyakarta, beritalima.com|- Masjid Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang didirikan pada 2010 dengan dikenal keunikan arsitekturnya (perpaduan corak Islami, lokal Jawa, dan modern) serta memiliki ruang ibadah inklusif bagi jamaah difabel, ternyata masih ada perlu tambahan lagi guna memudahkan masyarakat berkebutuhan khusus untuk beribadah.
Masjid ini dilengkapi dengan ramp permanen, ubin pemandu, Al-Quran Braille, hingga layanan juru bahasa isyarat dalam khutbah dan acara besar. Koordinator Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Asep Jahidin menuturkan, pihaknya sudah dilibatkan sejak perencanaan pembangunan.
“Paradigma integrasi-interkoneksi antara studi keislaman dan keilmuan umum diterjemahkan dalam pembangunan layanan aksesibilitas bagi jamaah difabel,” ujarnya. Namun, realitas di lapangan menunjukkan fasilitas tersebut belum sepenuhnya mudah diakses.
Beberapa mahasiswa difabel mengaku lebih memilih mushola fakultas atau perpustakaan karena akses ke toilet dan ruang ibadah lebih jelas serta dekat dengan Difabel Corner. Nabil Salim, mahasiswa difabel netra, mengeluhkan sulitnya orientasi menuju tempat wudu.
“Kalau ada yang bantu sih aman, tapi kalau sendirian itu susah,” kisahya. Hal serupa diungkapkan Fanza Fauzan yang menilai belum ada penanda tactile untuk saf salat, sehingga jamaah netra sering kebingungan saat mencari posisi.
Bagi pengguna kursi roda, ramp di pintu utama memang sesuai standar Permen PUPR No. 14/PRT/M/2017. Namun, tantangan muncul ketika harus menyeberang jalan raya dari gedung kampus timur menuju masjid, yang hampir selalu membutuhkan pendampingan.
Pengurus harian masjid, Muflikhuddinzain, mengakui belum pernah mendapatkan edukasi khusus tentang interaksi dengan difabel. “Sensitivitas terhadap keberadaan jamaah difabel memang belum terbangun,” ujarnya.
Dengan kondisi ini, Masjid Sunan Kalijaga menghadapi pekerjaan rumah lumayan besar, guna memastikan fasilitas fisik yang sudah tersedia benar-benar bisa digunakan secara mandiri, sekaligus membangun kesadaran sosial jamaah agar lebih peka terhadap kebutuhan difabel. Inklusivitas sejati, tampaknya, bukan hanya soal ramp dan ubin pemandu. Tapi juga soal sikap dan kepedulian bersama.
Jurnalis: abdul hadi/abri








