Mengkudu Organoni Kurangi Diabetes dan Hipertensi

  • Whatsapp

SURABAYA, Beritalima.com|
Bagi sebagian orang, mengonsumsi buah mengkudu akan terasa pahit dan tidak bermanfaat. Namun, ternyata buah mengkudu memiliki manfaat besar, terutama dalam menyembuhkan berbagai penyakit. Salah satunya, dibuat menjadi Organoni atau olahan minuman herbal alami dari buah mengkudu.

Bahkan, minuman mengkudu yang sudah melalui proses fermentasi selama dua tahun tersebut bisa mengurangi bermacam penyakit berat yang membutuhkan biaya besar untuk pengobatan dan penyembuhan. Seperti kanker, diabetes, hipertensi, hepatitis, autoimun, hingga HIV.

Hal itu disampaikan dr Handryono Soesilo, salah seorang dokter di Surabaya, saat memberikan penjelasan dalam healthy lifestyle mengenai khasiat dan manfaat buah mengkudu yang diolah menjadi minuman fermentasi, Organoni, kepada puluhan pasien dan masyarakat umum di Surabaya.

dr Handry menjelaskan, selama ini, pasien yang ditanganinya, terutama yang menderita penyakit berat, seperti kanker, HIV, autoimun, diabetes, dan hipertensi, terbantu setelah mengonsumsi Organoni, minuman herbal alami berfermentasi ini.

Bahkan, pasien yang sempat didiagnosa menderita kanker ganas dan harus menjalani injeksi Stem Cell dengan biaya antara Rp55 juta hingga 100 juta, kini memiliki kemajuan kesehatan yang lebih baik setelah rutin mengonsumsi olahan minuman dari buah mengkudu ini.

“Saya akan mensetarakan Organoni ini adalah suatu Stem Cell. Karena sifatnya sama yaitu meregenerasi sel ini yang kita butuhkan. Stem Cell ini kerjanya tidak bisa diperintah, tapi sesuai dengan regenerasi sel karena di dalam Organoni mengandung vitamin, mineral, dan alfa-fetoprotein,” ujar dr Handry, Jumat (12/1/2024).

Menurut dr Handry, manfaat lain bagi kesehatan dari minuman fermentasi Organoni ini, yakni fermentasi mengkudu mengandung antioksidan dan senyawa bioaktif yang dapat membantu menurunkan tekanan darah. Minuman fermentasi mengkudu yang difermentasi mengandung probiotik yang dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

“Minumnya sehari satu kali bagi pasien dengan penyakit ringan. Tapi, bagi pasien kategori berat bisa sehari dua kali (siang dan malam). Memang, ini tidak menghilangkan obat yang diberikan dari dokter, tapi nantinya bisa mengurangi dan perlahan tidak ketergantungan dari obat yang diberikan oleh dokter,” ungkap dr Handry.

Salah satu konsumen minuman fermentasi Organoni, Lucia Indraswari, mengatakan ia tidak memiliki riwayat penyakit. Namun, keluhannya selama ini agar membantu dalam kualitas tidurnya menjadi lebih baik. Setiap hari, Lucia mengaku minum sebanyak dua kali (siang dan malam) dan masing-masing satu sloki berisi 15 mililiter.

“Awalnya, saya tidak bisa tidur nyenyak karena setiap beberapa menit bangun, dan merusak kualitas tidur saya. Saat ini, saya sudah minum untuk botol kedua berukuran 500 mililiter. Dan, saya sekarang bisa merasakan deep sleep (tidur nyenyak),” jelas Lucia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Operasional Life 4 Win, Andreas Edi Sulistiyo, mengatakan minuman fermentasi mengkudu Organoni ini sudah diekspor ke berbagai negara maju sejak 2019 lalu. Seperti, Korea, Jepang, China, Vietnam, Arab Saudi, Dubai, bahkan beberapa di antaranya negara eropa.

“Mulai ekspornya memang mulai tahun 2019, tapi untuk mulai proses penelitian dan produksinya dimulai sejak tahun 2015. Saat itu, pemilik pabriknya orang Lumajang dan ada permintaan dari Jepang dan Korea. Produksinya di dekat lereng Semeru, Lumajang, karena tanahnya bagus dan agronomi mineral yang tinggi,” terangnya.

Andreas menjelaskan, biasanya proses fermentasi olahan mengkudu ditambahkan dengan larutan gula atau kandungan yang lain. Namun, Organoni ini dibuat tanpa menggunakan bahan tambahan. Organoni terfermentasi secara alami selama dua tahun. Untuk satu botol berisi 500ml dijual dengan harga Rp 425 ribu. Sedangkan, satu botol berisi 100ml dijual dengan harga Rp 100 ribu.

“Saat ini, untuk permintaan ekspor rata-rata 100 ton dalam sekali pengiriman (atau berisi 1-2 kontainer). Biasanya, ekspor rutin dilakukan setiap dua hingga tiga bulan sekali, dan bergantian untuk tiap negara tujuan ekspor,” pungkas Andreas.(Yul)

beritalima.com

Pos terkait