Menyasar Cantin Remaja, BKKBN Jatim Sosialisasi di Desa Bebas Stunting

  • Whatsapp

SIDOARJO, beritalima.com | Sebelum menggelar kegiatan di Kutisari Surabaya pada malam hari, di hari yang sama pada pagi harinya BKKBN Jawa Timur juga mengadakan kegiatan yang sama di Kemangsen, Balongbendo, Sidoarjo. Promosi Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting pada Selasa (11/10/2022) ini dihadiri Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Maria Ernawati mengatakan, BKKBN diamanahi Undang-Undang untuk memastikan warganya tumbuh dengan seimbang, kuota bumi dan manusianya seimbang yang berimbas ke Sumber Daya Alam.

Selain itu, BKKBN juga bertugas untuk menjadikan keluarga yang berkualitas. Untuk itu BKKBN memiliki program bernama Generasi Berencana (GenRe), program dengan sasaran remaja usia 10 tahun hingga 24 tahun yang belum menikah.

Disebutkan, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang perkawinan menyebutkan aturan usia untuk menikah baik laki-laki dan perempuan minimal 19 tahun. Namun, BKKBN menganjurkan pernikahan dilakukan di usia 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.

“Karena, pada usia tersebut sel telur bagus dan matang diproduksi oleh wanita. Selain itu, pinggul perempuan siap untuk melahirkan pada perkembangan optimal 10 cm, sehingga persalinan bisa dilakukan secara vaginal,” terang Ernawati.

Disampaikan, BKKBN memiliki alat deteksi dini mengenai Catin (calon pengantin) sudah siap hamil atau belum, yakni aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil). Aplikasi ini wujud inovasi BKKBN untuk mencegah stunting pada anak dengan cara mengedukasi remaja mengenai bahaya stunting yang merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis.

Terkait stunting, lanjut dia, perlu menyiapkan generasi muda sedari dini atau sejak dari hulu, sehingga BKKBN mempersiapkan sosialisasi KIE tentang program Pembangunan Keluarga Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana).

Ernawati mengatakan, stunting bukanlah penyakit, tapi kondisi gagal tumbuh dan kembang pada 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sekitar 270 hari dalam kandungan dan 730 hari setelah dilahirkan atau dua tahun pertama. “Selama masih dalam 1.000 hari kehidupannya masih bisa diperbaiki,” tambahnya.

Cara memperbaikinya adalah dengan pemberian ASI eksklusif sampai enam bulan, baru setelah itu Makan Pendamping ASI (MPASI) dengan gizi yang seimbang. Selain itu, harus imunisasi lengkap. Lingkungan juga harus bersih, dan air yang diminum harus layak, serta jangan sampai rumah kotor, karena berpotensi anak terkena diare.

Narsum lain, yakni Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3 AKB) Kabupaten Sidoarjo, Samsu Rizal, menambahkan, Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang ada di setiap desa dan kelurahan akan melakukan pendampingan pada cantin remaja dan calon ibu guna mempersiapkan generasi emas. TPK ini terdiri dari PKK, kader Keluarga Berencana (KB), dan Dinas Kesehatan.

Syamsu menyebut, Desa Balongbendo memang bebas stunting, respon masyarakatnya bagus. Syamsu berharap prestasi Desa Balongbendo sebagai desa bebas stunting bisa konsisten, karena kunci utama dari keberhasilan ini adalah dengan masyarakat menjadi proaktif terhadap percepatan penurunan stunting.

Sementara itu Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina mengatakan, permasalahan reproduksi bagi cantin perempuan dan laki-laki menjadi hal terpenting. Pesannya, memiliki anak yang cerdas dan hebat bukan hanya saat dilahirkan, melainkan saat masih di dalam rahim.

Arzeti menjelaskan, mengenai kesehatan organ reproduksi cantin harus dikontrol ke dokter untuk mengetahui apakah siap dibuahi atau tidak. “Demikian juga setelah menikah dan hamil, harus juga dikontrol ke dokter, di samping bisa memberikan ASI, gizi dan lingkungan yang bersih.

“Mari bersama-sama melakukan gerakan dalam mengikuti, mengawasi dan membimbing anak-anak kita untuk menjadi anak yang sehat dan cerdas, sehingga kelak menciptakan Generasi Emas,” kata Arzeti. (Gan)

Teks Foto: Maria Ernawati bersama Arzeti Bilbina dan Samsu Rizal ketika sosialisasi pencegahan stunting di Kemangsen, Balongbendo, Sidoarjo.

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait