Aceh, Beritalima.com ( Hari yang seharusnya penuh peluk hangat dan tawa keluarga, berubah menjadi kisah pilu bagi puluhan pengungsi korban banjir di halaman Kantor Bupati Bireuen, Minggu (22/3/2026). Di tengah suasana Idul Fitri, mereka merayakan lebaran dalam keterbatasan di bawah tenda, beralaskan tikar, dan beratapkan langit.
Tak ada ruang tamu, tak ada dapur, apalagi hidangan istimewa. Yang ada hanyalah kebersamaan sederhana. Di bawah pohon rindang, mereka makan bersama, saling berbagi apa yang ada. Suapan demi suapan terasa lebih berat, bukan karena lapar, tetapi karena rasa kehilangan yang belum terobati.
Anak-anak duduk di samping orang tuanya, sebagian masih mengenakan pakaian seadanya. Tatapan mereka kosong, seolah belum mengerti mengapa lebaran tahun ini begitu berbeda. Tidak ada kunjungan ke rumah saudara, tidak ada amplop lebaran, hanya tenda dan kerinduan yang menggantung di udara.
Sesekali terdengar tawa kecil, namun cepat tenggelam oleh sunyi yang menyelimuti. Di antara mereka, ada yang diam menahan air mata, mengingat rumah yang rusak, atau janji yang belum juga ditepati.
M. Amin mengatakan, makan bersama ini menjadi cara mereka menjaga kekuatan di tengah cobaan yang tak kunjung usai.
“Sekarang ada 68 pengungsi di sini, dari sebelumnya 56. Kami akan tetap kompak dan bertahan sampai hak-hak kami benar-benar diberikan oleh pemerintah daerah,” ujarnya dengan suara lirih.
Lebaran di tenda ini bukan sekadar cerita tentang kesederhanaan, tetapi tentang keterpaksaan. Tentang rakyat kecil yang harus mengorbankan kebahagiaan hari raya demi menuntut hak yang selama ini diabaikan.
Di balik senyum yang dipaksakan, tersimpan luka yang dalam. Dan di balik kebersamaan itu, ada satu harapan yang terus mereka jaga, agar suatu hari nanti, mereka bisa pulang… dan merayakan lebaran dengan layak, di rumah mereka sendiri.( A79)








