Mereka Tidak Berhenti Bertani

  • Whatsapp

beritalima.com | Pandemi Covid-19 tak membuat Buruh Tani di Pereng, Prambanan, Jawa Tengah berhenti bekerja. “Sebelumnya ya takut, tapi kalau mikir-mikir terus,gimana saya bisa bertahan hidup,” ujar Kamti, salah satu buruh tani di Pereng.
Mereka tidak berhenti bertani, meskipun tahu dapat membahayakan diri sendiri. Menurut Kamti, kalau buruh tani berhenti bekerja, semua akan berhenti. “Kita tidak berhenti karena di sini sudah aman, selama tidak ada kedatangan dari perantau,” ujar Kamti.

Mereka bertani seperti sebelum datangnya pandemi Corona. Namun, pemerintah setempat dan Penyuluh Pertanian Lapangan(PPL) menganjurkan, sebelum bertani menggunakan masker, kemudian cuci tangan sesudah sampai rumah.

“Kalau sampai ditemukan hama atau penyakit, PPLyang kena semprot. PPL khusus nanganin tanaman yang kira-kira ada tanda terserang penyakit,” ujar Kamti.
“Was-was itu ada, tapi tidak terlalu terasa takut karena untungnya ada kesibukan. Biar tidak tertekan karena fokus Corona. Alhamdulillah malah senang kalau lihat padi tetap bisa panen,” ujar Kamti.

Sementara Tukiyem, yang baru bekerja sebagai buruh tani semenjak Corona mewabah di Indonesia mengatakan, “Bagaimana lagi, saya akan terus bekerja, yang penting halal.”
Sejak 1990 Tukiyem bekerja sebagai tukang rongsok. Ia berusaha mencari pekerjaan apapun, yang penting halal.

Karena itu ia juga menjadi buruh tani untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Semenjak PSBB, semua agen rongsok yang biasa ia temui, tutup. Penghasilan mencari rongsok biasanya perhari dapat Rp15.000 – Rp25.000. Suaminya tidak bekerja, lalu bagaimana cara keluarganya bertahan hidup, jika Tukiyem pun tidak bekerja.

“Kalau sudah membaik, saya kembali lagi mencari rongsok,” ujar Tukiyem. Penghasilan yang didapat sebagai buruh tani tidak seberapa. Gaji yang didapat pun bukan perbulan, melainkan per bagian yang dikerjakan hari itu juga.

Dampak dari PSBB ini sangat memengaruhi masyarakat. Beberapa yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, terpaksa harus terus bekerja demi keberlangsungan hidup keluarganya.

Iffa Naila Safira,
mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta,
Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Prodi Jurnalistik.

Pos terkait