BONDOWOSO, beritalima.com – Kondisi bangunan SD Negeri Kelabang II, Kecamatan Tegalampel, Kabupaten Bondowoso, kian memprihatinkan. Sejumlah ruang kelas yang mengalami kerusakan parah masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar siswa kelas 1 hingga kelas 6.
Ruangan kelas yang disangga menggunakan bambu itu dinilai sangat membahayakan keselamatan siswa. Atap dan plafon yang banyak ambrol menjadi pemandangan sehari-hari di dalam kelas. Meski demikian, proses pembelajaran tetap berlangsung seperti biasa karena tidak ada ruang alternatif yang dapat digunakan.
Salah satu guru, Mula Wiji Lestari, mengatakan kerusakan bangunan telah terjadi sejak beberapa tahun terakhir dan hingga kini belum ada perbaikan berarti. Pelaporan ke pihak terkait sudah dilakukan, namun sampai saat inipun belum ada kejelasan kapan akan diperbaiki.
“Kami khawatir sewaktu-waktu bangunan ini roboh saat anak-anak sedang belajar,” ujarnya saat ditemui di sekolah.
Ia mengaku kekhawatiran semakin terasa saat musim hujan tiba. Pasalnya sudah banyak atap flafon yang sudah ambruk, bahkan sudah terlihat kayunya yang sudah lapuk. Sehingga hal itu menjadi waswas bagi para guru-guru.
” Tapi kami tetap mengajar karena ini satu-satunya tempat belajar anak-anak di sini,” tambahnya.
SD Filial yang berada di Dusun Sumber Biru tersebut merupakan satu-satunya pusat kegiatan belajar bagi masyarakat setempat. Sekolah ini menjadi tumpuan utama anak-anak untuk mengenyam pendidikan dasar. Gedung sekolah diketahui dibangun sejak tahun 2005 dan hingga kini belum pernah mendapatkan renovasi.
“Usia gedung sekolah ini sudah 21 tahun, jadi wajar kalau ada kerusakan, jadi perlu perbaikan,” ungkapnya.
Saat ini terdapat 14 siswa yang belajar di sekolah tersebut, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Sekolah ini dibentuk sebagai kelas jauh untuk menjangkau anak-anak di dusun Sumber Biru.
“Kalau harus bersekolah ke SD induk, jaraknya sekitar 2 hingga 3 kilometer. Sementara ke SD Mandiro 1, jaraknya lebih jauh lagi,” pungkasnya.
Salah satu orang tua siswa Mosleh mengaku cemas dengan kondisi bangunan yang semakin rapuh. Akan tetapi pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berharap perhatian dari pemerintah daerah.
“Kami sebagai orang tua tentu khawatir melihat kondisi kelas seperti itu. Tapi anak-anak tetap harus sekolah. Kami berharap pemerintah segera memperbaiki agar mereka bisa belajar dengan aman dan nyaman,” ungkapnya.
Masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun dinas terkait sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Mereka khawatir, jika tidak segera ditindaklanjuti, keselamatan siswa terancam dan masa depan pendidikan anak-anak di Sumber Biru akan terabaikan. (*/Rois








