Jakarta, beritalima.com – Dalam siaran pers Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Islam Iran di Jakarta dikatakan (9/3), Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah al-Udzma syahid Seyyed Ali Hosseini Khamenei, raih lebih dari 85 persen suara dari Majelis Khobregan Kepemimpinan (Dewan Pakar Kepemimpinan), telah ditetapkan sebagai Pemimpin Ketiga Republik Islam Iran.
Pemilihan berlangsung setelah kejahatan perang internasional oleh Amerika Serikat (AS) dan rezim Zionis Isarel pada 28 Februari menyebabkan kesyahidan Ayatollah Seyyed Ali Khamenei serta ribuan anak-anak dan warga sipil tak berdosa..
Pemilihan ini sekali lagi bukti, Iran tidak bergantung pada satu individu, melainkan merupakan sebuah sistem yang berlandaskan supremasi hukum, suara rakyat, dan nilai-nilai Ilahi. Meskipun telah kehilangan seorang pemimpin besar, sejumlah pejabat tinggi, dan komandan militer seniornya, sistem ini akan tetap melanjutkan jalannya dengan keteguhan dan kekuatan di bawah kepemimpinan baru yang layak, dalam upaya menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia.
Kini, memasuki tahap ke-30 dari Operasi “Janji Setia 4” (Va’deh Sadegh_4), komando kepemimpinan Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei siap melakukan serangan balasan terhadap wilayah-wilayah zionis Israel yang telah memasuki hampir dua pekan.
Perlu diketahui, serangan brutal dan tak berperikemanusiaan dari AS dan Israel yang dimulai 28 Februari 2026 (bertepatan dengan 10 Ramadan 1447), mengakibatkan lebih dari 1.300 anak-anak dan warga sipil tak berdosa telah menjadi syahid, dan 9.669 target sipil telah dihancurkan, termasuk 7.943 unit rumah tinggal, 1.617 pusat perdagangan dan layanan, 32 pusat medis dan farmasi, 65 sekolah dan fasilitas pendidikan, 13 bangunan Perhimpunan Bulan Sabit Merah, serta sejumlah infrastruktur penyediaan energi.
Kejahatan perang lainnya dari AS dan Israel, yakni menyerang kapal perang Iran “Dena” pada jarak lebih dari 2.000 mil laut dari pantai Iran saat sedang menjalani latihan bersama India berakibat syahidnya 104 putra bangsa lainnya. Kapal perang yang tidak bersenjata ini ditembak tanpa diberi peringatan apapun dan berada di perairan internasional.
Lalu, tindakan brutal lainnya adalah menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk bandara sipil, pesawat penumpang, serta fasilitas penyulingan air laut di Pulau Qeshm, yang merupakan kejahatan nyata lainnya yang melanggar hukum kemanusiaan internasional; kejahatan yang akan membawa konsekuensi berat bagi para pelakunya.
Iran berhak mempertahankan kedaulatannya (bahkan membalas) karena diserang lebih dahulu, sesuai Piagam 51 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan menggunakan seluruh kemampuan dan kapasitasnya untuk menghadapi agresi kriminal ini hingga agresi tersebut dihentikan, atau hingga Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjalankan tugasnya sesuai Pasal 39 Piagam PBB, yakni mengidentifikasi para agresor dan menetapkan tanggung jawab atas tindakan agresi mereka,” tulis siaran persnya.
Operasi pertahanan Iran ditujukan terhadap target dan fasilitas yang menjadi sumber dan titik awal serangan, atau yang berfungsi mendukung tujuan tersebut. Iran tetap komit menjaga dan membina hubungan persahabatan dengan negara-negara kawasan atas prinsip saling menghormati, hubungan bertetangga yang baik, serta penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing.
Jadi, disebutkan, “operasi pertahanannya terhadap pangkalan dan instalasi militer Amerika Serikat di kawasan sama sekali tidak boleh dipandang sebagai permusuhan terhadap negara-negara kawasan. Negara-negara kawasan tentu telah menyadari bahwa keberadaan pangkalan militer Amerika di wilayah mereka tidak hanya gagal memberikan kontribusi bagi keamanan kawasan, tetapi justru digunakan untuk mendukung rezim Zionis yang membunuh anak-anak dan agresor Amerika.”
Ditegaskan, “Kedutaan Besar Republik Islam Iran menilai bahwa tindakan Washington dan Tel Aviv merupakan ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan kawasan maupun internasional, dan menyerukan kepada seluruh insan merdeka di dunia, selain mengutuk keras dan secara tegas serangan tersebut, juga mengambil langkah nyata dan segera untuk menghadapi kejahatan Amerika Serikat dan rezim Zionis, yang tanpa diragukan telah menempatkan perdamaian dan keamanan kawasan serta dunia pada tingkat bahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Jurnalis: abri/rendy








