Jakarta, beritalima.com|- Bila kita melintas di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, tampak di halaman depannya ada sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) milik TNI di era perjuangan. Disitulah Museum Satriamandala berada.
“Museum khusus ini dapat dikunjungi oleh umum seperti pelajar (SD, SMP, SMA), mahasiswa, keluarga, dan masyarakat umum. Disamping menyimpan banyak data dan fakta sejarah, juga dapat menjadi sarana wisata sejarah sambal kuliner,” ujar Letnan Kolonel Caj Anggi Salamun, Kepala Museum Satriamandala.
Bersama keluarga atau kerabat, di Museum Satriamadala kita bisa hangout dan kumpul sambil santai makan dan minum di kedai Kopi Nako atau Kopi Nusantara. Atau, ingin merasakan sajian kuliner ala Jepang ada Sabhu Kojo serta makanan sederhana di kantin.
Terdapatnya ruang hijau terbuka, asri dan luas di pusat kota ini, menjadi lokasi strategis yang mudah dijangkau oleh semua masyarakat, baik yang ingin membawa kendaraan sendiri (mobil/motor bahkan bis) karena terdapat halaman parkir sangat luas atau dengan kendaraan umum (transjakarta).
Kini, ada sejumlah pembenahan di Museum yang berdiri sejak 5 Oktober 1972 dan diresmikan oleh Presiden ke-2 Soeharto. Yakni, ada ruangan merah putih dimana dalamya terdapat pemutaran film yang bercerita tentang proklamasi dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Museum Satriamandala berdiri dari ide Prof. DR. Nugroho Notosusanto. Gedung ini dahulunya merupakan kediaman Presiden Soekarno dan istrinya Ratna Sari Dewi yang dikenal dengan nama Wisma Yaso,” cerita Salamun.
Dan, berdirinya Museum ini menjadi salah satu sarana pewarisan nilai-nilai juang 1945 dalam pembinaan serta pelestarian jiwa dan semangat keprajuritan di lingkungan TNI. Museum juga menjadi sarana yg efektif untuk menanamkan kesadaran sejarah dan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda.
Di dalam komplek museum, ada benda-benda bersejarah peninggalan para pejuang dan tokoh TNI dari tahun 1945 sampai dengan sekarang (termasuk Panglima Besar Sudirman saat memimpin perang gerilya tahun 1948 – 1949).
Ada Pesawat cureng buatan Jepang (1933) yang berhasil direbut oleh Tentara Republik Indonesia dan diterbangkan pertama kali oleh penerbang Indonesia yaitu Agustinus Adisucipto, Pesawat Dakota 001 yang menjadi embrio berdirinya Garuda Indonesia, Pesawat Pembom B29, dan lain-lain tersusun rapih di Taman Dirgantara. Koleksi lainnya replikas Kapal RI 602 Matjan Tutul yang tenggelam Bersama Komodor Yosephat Sudarso pada pertempuran Laut Aru.
Sarana menarik lainnya di dalam museum terdapat 74 diorama yang menggambarkan peranan TNI Bersama rakyat dalam membela kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari berbagai ancaman baik dari dalam maupun luar negeri.
Serta, ada pula koleksi senjata di museum ini, yang merupakan peningalan Perang Dunia Kedua.seperti senapan-senapan laras Panjang salah satunya yaitu AK47, Sejata Mesin Ringan (SMR), Senjata Mesin Sedang (SMS) dan Senjata Mesin Berat (SMB) juga ikut dipamerkan guna menambah pengetahuan sejarah bagi para pengunjung.
“Silahkan berkunjung ke museum Satriamandala, ajak keluarga/kerabat, untuk mengenang jasa para pendahulu sekaligus sebagai wisata sejarah. Museum ini dibuka setiap hari dari Jam 08.00 wib.sampai 17.00 wib dan tiket masuk lima ribu rupiah,” jelas Salamun.
Jurnalis: abri/rendy








