Jakarta, beritalima.com| – Dalam perjalanan sejarah Garuda Indonesia, negara Myanmar (dulu Birma) memiliki catatan penting. Mengapa? Karena dalam sejarahnya, saat Republik Indonesia baru saja merdeka dan diblokade udara oleh kolonial Belanda, maka para penerbang Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) membawa sebuah pesawat keluar negeri dan singgah di Birma.
Pesawat berjenis Dakota atau DC-3 itu yang diberi nama Indonesian Airways serta dibeli dari hasil sumbangan para saudagar Aceh setelah kedatangan Presiden I Soekarno mengunjungi Aceh, dibawa oleh para penerbang dan crew AURI dibawah pimpinan Wiweko Soepono ke luar negeri, guna mencari dana tambahan yang akan digunakan untuk perjuangan di Tanah Air.
Namun, karena akibat agresi Belanda pada akhir 1948, wilayah udara Indonesia dikawal ketat oleh pesawat-pesawat Belanda, pesawat tersebut tak dapat kembali ke Tanah Air. Wiweko dan kawan-kawan tak kehilangan akal. Pesawat tersebut kemudian dikomersilkan. Dan, negara pertama yang menyewa (charter) pesawat Indonesia ini adalah Birma, untuk kepentingan Angkatan bersenjatanya.
Dari hasil sewa pesawat ini, Wiweko cs bisa mendapatkan sejumlah uang yang kemudian dibawa ke Tanah Air untuk perjuangan. Karena aksi heroik dan monumental ini, maka penerbangan perdana komersial Indonesia Airways di Birma dijadikan Hari Kelahiran Garuda Indonesia, yakni 26 Januari 1949.
Wiweko yang kemudian menjadi Direktur Utama Garuda Indonesia (1968-1984), tak bisa melupakan peristiwa penting di Birma yang sekarang berubah menjadi Myanmar. Peristiwa penting ini juga menjadi catatan sejarah perjuangan Indonesia di luar negeri.
Menengok peristiwa tersebut, dan kini Garuda Indonesia, sebagai perusahaan penerbangan nasional ditunjuk Pemerintah untuk turut berkesempatan mendukung misi kemanusiaan membantu masyarakat Myanmar yang baru saja tertimpa musibah gempa bumi, terasa menjadi nostalgia sekaligus momentum mempererat persaudaraan internasional antara kedua negara.
Misi kemanusiaan Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri RI Sugiono serta dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Ketua Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kepala Basarnas Marsekal Muda TNI Mohammad Syafii, Kepala BAZNAS Noor Achmad, dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya, pada 3 April lalu mengirim bantuan ke Myanmar dengan diangkut Pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800 NG.
Bantuan dengan Garuda Indonesia mengangkut 7,6 ton peralatan kesehatan dan logistik yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, BAZNAS, Palang Merah Indonesia, TNI, Basarnas dan lembaga lainnya, serta 64 personel tim Emergency Medical Team (EMT).
Direktur Utama Garuda Indonesia Wamildan Tsani mengungkapkan, “melalui kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang senantiasa diberikan oleh Pemerintah RI kepada Garuda Indonesia dalam mendukung berbagai misi kemanusiaan, serta menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang turut serta dalam menyukseskan kolaborasi ini sehingga pengoperasian penerbangan kemanusiaan menuju Myanmar dapat terealisasi secara optimal.”
Bantuan kemanusiaan Indonesia kepada Myanmar datang bertahap. Sejak Hari Raya Idul Fitri telah dikirim bantuan melalui beberapa Pesawat TNI AU. “Kami bergerak atas permintaan dari Pemerintah Myanmar yang sudah mengirimkan permintaan bantuan melalui Kementerian Luar Negeri,” jelas Suharyanto, Kepala BNPB.
Oleh: abriyanto, wartawan beritalima.com







