Nasib Amerika Latin di Tengah Runtuhya Sosialisme abad 21

  • Whatsapp
Hugo Chavez Presiden Venezuela (2019-2013). Nasib Amerika Latin di tengah runtuhya Sosialisme abad 21 (foto: thecommunist)

Jakarta, beritalima.com|- Nasib negara-negara di Amerika Latin yang sedang diancam oleh hegemoni AS lewat kepemimpinan Donald Trump menjadi pekerjaan rumah besar tentang paham sosialisme abad 21 yang nyaris runtuh.

Dinamika di Amerika Latin ini dibahas dalam Forum PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit) ke-18 bertema “Berakhirnya Sosialisme Abad ke-21,” dengan narasumber Dr. Nur Iman Subono, dosen Program Studi Ketahanan Nasional SKSG Universitas Indonesia, Jakarta.

Nur Iman Subono, akrab dipanggil Boni, memaparkan apa yang disebut sebagai “sosialisme abad ke-21” awalnya merupakan sebuah proyek politik dan ekonomi sebagai alternatif terhadap kapitalisme neoliberal yang sekaligus juga alternatif terhadap sosialisme klasik. Tujuannya untuk menciptakan sistem pemerintahan yang lebih adil melalui negara kuat yang didukung oleh partisipasi rakyat.

Sosialisme abad ke-21 menjadikan negara berperan aktif namun demokrasinya tetap terjaga. Negara hadir sebagai regulator sekaligus sebagai pelindung sosial. Semua diarahkan demi keadilan, keseimbangan antara hak individu dan tanggung jawab sosial, serta keberlanjutan ekologis.

Ada tiga visi dan implementasi dari sosialisme abad ke-21, ujar Boni, mencakup kepemimpinan populis dengan partai sebagai gerakan massa rakyat; program sosial komunitas dengan misi kesehatan, pendidikan, dan perumahan berbasis komunitas (misiones bolivarianas); serta penguasaan negara atas sumber-sumber daya alam sebagai penggerak agenda sosial. Sosialisme abad ke-21 dalam dimensi internasional, mencoba menyeimbangkan kontrol negara dan kekuatan rakyat melalui empat aspek, yaitu demokrasi partisipatif, ekonomi ekuivalensi, kesejahteraan sosial, dan  anti-imperialisme.

Dalam forum yang diselingi penampilan apik penyanyi berbakat tingkat internasional  Jane Callista itu, Boni menerangkan gagasan “sosialisme abad ke-21” pertama kali dipopulerkan oleh sosiolog Jerman-Meksiko bernama Heinz Dieterich, diadopsi secara luas oleh Presiden Venezuela Hugo Chávez (1999-2013) sebagai landasan ideologis gerakannya.

Praktiknya, sosialisme abad ke-21 menampilkan proses dan hasil yang berbeda-beda ketika dilaksanakan di Amerika Latin, khususnya di Venezuela, Bolivia, dan Ekuador. Di Venezuela inilah paling radikal dilakoni oleh Chavez. “Hugo Chávez mengambil teori ini dan memberinya ‘nyawa’ di panggung politik praktis sebagai jawaban atas krisis ekonomi yang melanda Venezuela dan negara-negara Amerika Latin lainnya pada akhir 1990-an,” bahas Boni.

Namun kebijakan nasionalisasi yang luas di Venezuela berujung pada krisis ekonomi, hiperinflasi, dan eksodus jutaan warga. Pada akhirnya bahkan berdampak pada intervensi militer oleh Amerika Serikat (AS). Sebagaimana diketahui, berakhirnya sosialisme abad ke-21 di Venezuela ditandai dengan penangkapan Presiden Maduro oleh AS pada 3 Januari 2026 lalu.

Pada 2026, sorot Boni, dunia global diwarnai oleh dihidupkannya kembali Doktrin Monroe  tahun 1823 dalam bentuk “Trump Corollary”. Doktrin ini memandang Amerika Latin sebagai “halaman belakang” AS yang harus bebas dari intervensi negara-negara di luar AS. Hal itu antara lain ditandai dengan kebijakan Presiden Donald Trump yang berpaya menangkal pengaruh Tiongkok dan Rusia di Amerika Latin. Kebijakan demikian ikut mendorong gagalnya sosialisme abad ke-21.

Menurut Boni, kegagalan sosialisme abad ke-21 dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal mencakup krisis ekonomi, korupsi sistemik, lemahnya institusi negara, serta kurangnya diversifikasi ekonomi. Faktor eksternalnya meliputi tekanan dari AS seperti kampanye destabilisasi dan pendanaan oposisi dari luar negeri, dan sanksi ekonomi, serta anjloknya harga komoditas global sejak  2014.

Bertolak pada kondisi tersebut, ungkap Boni, masa depan Amerika Latin harus berhadapan dengan berbagai tantangan, seperti kembalinya neoliberalisme, destabilisasi, dan hegemoni AS. Menurutnya, pelajaran dari kegagalan sosialisme abad ke-21 adalah bahwa dinamika geopolitik tidak mengenal ideologi.

Jurnalis: rendy/abri

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait