Pak Try Selalu Bertanya, Bagaimana Perjuangan Konsitusi?

  • Whatsapp
Airvin Hardani (paling kiri) bersama Try Sutrisno (tengah). Pak Try selalu tanya, bagaimana perjuangan konsitusi? (Foto: istimewa)

Jakarta, beritalima.com|- Pagi itu kabar duka datang dengan tenang, tetapi terasa dalam. Bangsa ini kehilangan seorang prajurit. Saya kehilangan seorang guru.

Try Sutrisno telah berpulang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Di sana beristirahat mereka yang sepanjang hidupnya berdiri menjaga republik sering dalam sunyi, kadang tanpa tepuk tangan.

Saya mengenalnya sejak beliau menjabat Pangdam Jaya. Saat itu saya kerap mengikuti almarhum Benny Moerdani (menjabat Asintel Panglima TNI dan kemudian menjadi Panglima TNI). Dari kedekatan itulah saya menyaksikan karakter Pak Try: tegas tanpa perlu keras, loyal tanpa kehilangan nalar, tidak banyak retorika, tetapi memiliki garis prinsip yang jelas dalam hal kedaulatan dan konstitusi.

Karier beliau menanjak dari Pangdam, KSAD, Panglima ABRI, hingga Wakil Presiden mendampingi Soeharto. Namun dalam percakapan-percakapan pribadi, yang paling sering beliau bicarakan bukanlah jabatan. Yang beliau bicarakan adalah tanggung jawab sejarah: bagaimana memastikan bangsa ini tetap berdiri di atas konstitusi yang jernih dan tidak kehilangan ruh kedaulatannya.

Pada 26 Oktober 2017, dalam kuliah umum diselenggarakan oleh PARA Syndicate bertema “Menjaga Konstitusi dan Merawat Demokrasi,” beliau memperkenalkan saya kepada seorang dokter yang sejak itu saya panggil dokter Zul. Itulah awal kebersamaan kami berdua, diskusi demi diskusi lahir. Bersama Pak Try Sutrisno, almarhum Pak Teddy Rusdi (Marsda TNI Purn) dan dokter Zul, kami berbincang panjang tentang perjalanan konstitusi kita bukan dengan emosi, melainkan dengan kegelisahan seorang prajurit yang ingin melihat negaranya tetap tegak pada fondasi aslinya.

Saya masih teringat dalam salah satu pertemuan 28 Mei 2018 Pak Teddy dengan suara keras berkata: “Now or Never.” Rencananya 31 Mei 2018 kami akan bertemu lagi untuk menindaklanjuti diskusi. Namun sore itu kami mendapat berita Pak Teddy wafat dan kalimat itu seperti gema yang terus hidup dalam setiap pertemuan kami.

Kalimat itu menjadi semacam wasiat moral bagi kami berdua. Pak Try dan Pak (Jenderal TNI Purn) Widjojo Soejono kemudian “menitipkan” kami untuk berdiskusi secara rutin di Persatuan Purnawirawan TNI AD, yang saat itu dipimpin Letjen (Purn) Kiki Syahnakri.

Bahkan di masa pandemi, diskusi kami tak berhenti. Ketika kemudian dilanjutkan melalui Forum Komunikasi Purnawirawan TNI-Polri, semangat beliau tetap sama: kembali kepada UUD 1945 yang asli, lalu menyempurnakannya dengan teknik adendum, bukan dengan emosi, tetapi dengan argumentasi konstitusional.

Tidak lama setelah itu, satu per satu sahabat seperjuangan beliau berpulang. Namun Pak Try tetap berdiri, walau fisik mulai melemah. Setiap kali kami bersilaturahmi, beliau selalu bertanya: “Bagaimana perjuangan konstitusi?” Ingatannya tajam ketika menyebut pasal demi pasal. Tatapannya tetap menyala ketika berbicara tentang kedaulatan rakyat.

Dalam banyak kesempatan, beliau berpesan agar perjuangan menjaga kemurnian konstitusi dilakukan dengan cara bermartabat, argumentatif, konstitusional, dan setia pada kepentingan bangsa, bukan golongan. Bagi beliau, kembali kepada ruh asli Undang-Undang Dasar bukanlah soal nostalgia, melainkan soal memastikan arah republik tidak kehilangan jangkar. Salah satu pesan yang akan selalu kami kenang “Saya tidak mau mati sebelum kembali ke UUD45”

Kini beliau telah kembali kepada Sang Pencipta. Perjuangan itu belum selesai. Tetapi amanahnya tidak ikut terkubur.

Namun amanah telah berpindah tangan.Saya dan dokter Zul hanya dua orang kecil yang dititipi keyakinan besar. Semoga kami mampu menjaga kepercayaan almarhum Pak Teddy, Pak Widjojo, dan terutama Pak Try yang pernah beliau percayai untuk ikut merawat gagasan itu. Semoga kami mampu menjaga kepercayaan tersebut dengan cara yang bersih dan lurus. Tanpa amarah, tanpa ambisi pribadi, hanya dengan kesetiaan pada Indonesia.

Pada akhirnya, pangkat akan dilepas. Jabatan akan ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah niat dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58)

Selamat jalan, Jenderal. Semoga Allah menerima seluruh pengabdianmu sebagai amal jariyah bagi bangsa ini, dan menguatkan kami untuk tidak mengkhianati amanah yang telah Engkau titipkan melalui beliau.

Oleh Airvin Hardani, pegiat Konstitusi

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait