Dok: Dr. Ian Montratama menjadi narasumber dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Dewan Pertahanan Nasional (DPN) yang diselenggarakan di Sulawesi Tenggara.
Jakarta | Beritalima.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah wilayah Iran sejak 28 Februari 2026 mulai memicu tekanan pada stabilitas ekonomi dan pasokan energi global. Dampaknya, harga minyak dunia jenis Brent Crude Oil melonjak dari sekitar USD 62 per barel pada awal tahun menjadi USD 85–91 per barel.
Ketegangan meningkat karena posisi strategis Iran dalam jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Ancaman penutupan jalur tersebut dinilai berpotensi memicu krisis pasokan energi dan lonjakan harga minyak secara ekstrem.
Pakar ketahanan nasional dan geopolitik energi dari Universitas Pertamina, Dr. Ian Montratama, mengatakan konflik tersebut merupakan ancaman tidak langsung yang berdampak multidimensional bagi Indonesia.
“Meski Indonesia tidak terlibat secara geografis maupun militer, blokade de facto oleh Iran dapat mengganggu pasokan energi hingga kawasan Asia Tenggara. Dalam kondisi kepanikan pasar global, harga minyak bahkan bisa melonjak hingga USD 150–200 per barel,” ujarnya.
Menurut Ian, kenaikan harga energi global dapat memicu efek berantai pada perekonomian domestik, mulai dari peningkatan biaya transportasi dan logistik hingga kenaikan harga pangan yang berpotensi mendorong inflasi.
Selain aspek ekonomi, konflik tersebut juga memperkuat dinamika geopolitik global. Dukungan dari Tiongkok dan Rusia kepada Iran dinilai dapat memperluas rivalitas kekuatan besar di kawasan Timur Tengah.
“Situasi ini mendorong pergeseran tatanan global dari sistem unipolar menuju multipolar, di mana stabilitas internasional dipengaruhi oleh aliansi strategis antarnegara,” jelasnya.
Ian menilai pemerintah Indonesia perlu menyiapkan langkah mitigasi, baik jangka pendek maupun panjang.
Dalam jangka pendek, pemerintah perlu memperkuat stabilisasi ekonomi serta mendorong upaya deeskalasi melalui forum seperti ASEAN dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sementara itu, dalam jangka panjang Indonesia perlu memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi impor energi serta percepatan pengembangan energi alternatif.
“Situasi global ini menjadi pengingat bahwa kedaulatan energi dan ekonomi merupakan bagian penting dari ketahanan nasional,” kata Ian








