beritalima.com

Partikel Tuhan, Para Filsuf Kalkulasi Bisnis, Dan Public Policy Itu

  • Whatsapp

Serial Esai Spiritualitas Baru Abad 21
Narasi Ilmu Pengetahuan

beritalima.com

Denny JA

Penemuan terbesar dekade ini! Di antara 10 penemuan terbesar, ia menempati rangking paling atas. Begitulah respon komunitas ilmu, terutama fisika, menyambut ditemukan dan dibuktikannya eksistensi Partikel Tuhan atau Higgs Boson di tahun 2012. (1)

Di tahun 2013, setahun setelah pembuktian itu, Peter Higgs, sang teoritisi, mendapatkan hadiah Nobel di bidang ilmu fisika.

Bukan penemuan itu saja yang penting. Tapi proses penemuan ini menggambarkan realitas ilmu pengetahuan di abad 21.

Untuk sebuah eksperimen ilmu pengetahuan berskala besar di masa kini, tak hanya dibutuhkan seorang atau beberapa orang jenius. Tak ada yang bisa dibuktikan sang jenius jika ia hanya merenung dari ruang kerja kecilnya.

Penemuan dan pembuktian ilmu alam ini membutuhkan tim besar. Apalagi, ia membutuhkan dana yang teramat dan sangat besar. Dibutuhkan pula public policy, bahkan dukungan beberapa negara sekaligus.

-000-

Peter Higgs, seorang teoritisi fisika, di tahun 1960an ia mengembangkan sebuah model. Temuannya ini disebut Higgs mechanism. Asal usul alam semesta, ekpansinya, keseimbangannya, hanya bisa terjadi jika hadir satu partikel.

Partikel yang diteorikan oleh Higgs begitu meyakinkan. Partikel inipun dijadikan bagian dari sebuah model yang lebih besar: Standard Model of Particle Physics (SMPP)

Melalui SMPP inilah aneka temuan dan penjelasan soal alam semesta, terjadinya bintang, bumi hingga lahirnya manusia, bisa masuk akal. Tapi benarkah partikel yang diasumsikan Higgs itu, Higgs Boson itu, Partikel Tuhan itu, memang ada?

Maka dirancanglah eksperimen untuk memburu Higgs Boson atau Partikel Tuhan. Dibutuhkan enerji sangat besar karena harus menggerakkan proton mendekati kecepatan cahaya. Ada atau tidak adanya Higgs Boson dapat meruntuhkan ataupun memperkuat model SMPP yang selama ini diasumsikan saja.

Dibangunlah satu terowongan khusus yang besar yang disebut Large Hadren Collider. Panjangnya saja sekitar 27 kilometer. Ini kira kira separuh dari jarak Jakarta- Bogor. Alat raksasa ini harus pula di tanam di tanah dengan kedalaman 100 meter.

Hanya dengan panjang dan kedalaman ini, eksperimen mempercepat proton dengan kecepatan mendekati cahaya bisa dilakukan. Tapi alat sepanjang ini ditanam dimana? Beberapa negara berkerjasama. Disepakati alat ini disimpan di bawah tanah perbatasan Perancis dan Swiss.

Terowongan ini dikelola sedemikian rupa. Ia memerlukan suhu yang sangat dingin minus 235 celcius. Bayangkan nol celcius saja bisa membuat beku. Terowongan ini harus lebih dari 200 derajat di bawah nol.

Sekarang mari kita hitung, berapa biaya yang diperlukan agar eksperimen ilmu ini terlaksana. Berapa biaya membuat terowongan itu? Berapa dana listrik yang dibutuhkan agar suhunya di bawah 200 derajat celcius? Berapa keperluan honor tim yang besar di belakang eksperimen ini?

Total biaya yang dibutuhkan ternyata sebesar 13,25 billion USD (2). Kurs rupiahnya sekitar 180 trilyun rupiah. Jika tak tersedia dana sebanyak itu, eksperimen tak terjadi.

Tapi siapa yang bersedia membiayai? Tentu saja para jenius ilmuwan tersebut mustahil membiayainya. Para investor juga menolak karena kalkulasi bisnis tak masuk. Namun ini eksperimen sangat penting di bidang ilmu pengetahuan.

Maka tercatat delapan negara sekaligus membiayai dan terlibat: Jerman, UK, Itali, Perancis, Spanyol, Swiss, United States, Rusia dan India.

Betapa zaman sudah berubah. Asal usul alam semesta dan penjelasannya 2000 tahun lalu cukup memuaskan homo sapiens melalui renungan filsuf. Atau melalui wahyu yang diterima para Nabi.

Tapi begitu banyak pandangan filsuf yang saling berbeda. Kini ada 4300 agama yang berbeda pula. Ilmu pengetahuan datang hanya untuk menjelaskan satu pokok saja dari perihal alam semesta itu. Ada atau tidaknya Higgs Boson.

Ternyata eksperimen ilmu itu membutuhkan waktu 50 tahun, dana 150 trilyun rupiah dan public policy kerjasama delapan negara.

-000-

Tak heran jika kemudian Stephen Hawking membuat pernyataan yang terkenal: Filsafat sudah mati. (3). Asal usul semesta ataupun manusia tak memerlukan penjelasan filsafat lagi. Para filsuf tidak update dengan perkembangan ilmu mutakhir.

Ujar Hawking, yang kini dibutuhkan adalah kerja terus menerus para ilmuwan. Tapi para ilmuwan tak bisa sendiri. Ia memerlukan dukungan dana yang besar dari pihak swasta atau pemerintah.

Di tangan merekalah penjelasan soal alam semesta, juga asal muasal hidup akan semakin sempurna: ilmuwan plus investor!

Benarkah Stephen Hawking, bahwa filsafat sudah mati. Para filsuf semakin tak relevan? Apakah demikian pula dengan agama dan agamawan sudah tak berdaya untuk menjelaskan asal usul semesta dan kehidupan?

Hawking benar dan salah sekaligus. Ia benar karena pertumbuhan ilmu pengetahuan semakin otonom. Bidang ilmu memiliki prosedurnya sendiri, yang tak lagi memerlukan filsafat ataupun agama.

Segala hal yang bisa difalsifikasi, yang bisa disalah benarkan melalui eksperimen, observasi, tak ada ruang tersisa di sana, di dunia ilmu, baik bagi filsafat ataupun agama.

Tapi Hawking juga salah. Karena ilmu pengetahuan tidak beroperasi di ruang kosong. Ilmu hadir di ruang publik. Ada otoritas negara di sana. Public policy satu negara akan ikut menentukan jenis ilmu mana yang akan tumbuh? Ilmu itu diarahkan kemana pula?

Riset ilmu pengetahuan di masa kini, juga membutuhkan dana besar. Tanpa dana besar, sepenting apapun ilmu itu, ia akan berhenti tumbuh. Investor cukup menentukan ilmu apa yang ia berminat membiayai.

Sementara pemerintah, public policy, investor tidak bebas nilai. Apalagi di ruang publik, hadir pula opini publik yang berpengaruh. Sentimen filsafat, ideologi, agama ada di ruang publik itu.

Dalam metodelogi kerjanya, ilmu pengetahuan memang otonom. Tak perlu apapun di luarnya. Tapi di ruang publik, ilmu pengetahuan, filsafat, agama, public policy, opini publik, politik, ekonomi, bisnis, mereka bersinerji, saling menumbuhkan atau saling mengaborsi.

Di ruang publik, aneka pengetahuan itu menari bersama di alam kesadaran kolektif homo sapiens.

-000-

Kasus pencarian vaksin virus corona dapat menjadi contoh. Apa yang terjadi dengan peradaban kita di era pandemik tahun 2020? Di bulan Juli 2020, Enam bulan sudah kita terkurung di rumah.

Data hingga awal Juli 2020, sudah sepuluh juta manusia terpapar virus corona di lebih 170 negara. Sebanyak lebih dari 500 ribu nyawa melayang. Ekonomi akan merosot paling parah sejak The Great Depression 1930.

Mengapa tak ada investasi soal vaksin covid-19 jauh hari sebelumnya? Bukankah biaya menemukan vaksin ini tak seberapa dibandingkan pencarian Higgs Boson?

Juga riset labolatorium vaksin ini mungkin tak pula sesulit Higgs Boson jika memang ilmuwan diarahkan ke sana? Bukankah tak ada kendala kesulitan ilmu jika sejak awal kita menemukan vaksin virus corona?

Jawabannya adalah Public Policy! Penyebabnya adalah kalkulasi bisnis!

Dengarlah Dr. Peter Hotez. Tahun ini, 2020, ia mengirimkan pesan kepada Konggres Amerika Serikat. Betapa di tahun 2016, ujarnya, semua kita kehilangan momen berharga.

Saat itu, ia dan timnya hampir saja menemukan vaksin untuk virus corona (4). Tapi timnya kekurangan dana. Tak ada investor termasuk pemerintah yang bersedia memberikan dana.

Cortez mendalami keluaga virus corona sejak merebaknya SARS dan MERS di Afrika dan Timur Tengah. Baik SARS tahun 2003, ataupun MERS di tahun 2012, juga disebabkan oleh jenis virus dengan clinical features yang tak terlalu berbeda.

Saat itu, ketika Cortez mengajukan dana, tentu saja tak ada yang membayangkan akan terjadi pandemik virus corona sebesar sekarang. Jumlah korban SARS dan MERS juga sedikit saja. Virus ini tidak horor bagi dunia barat.

Secara bisnis, saat itu, dianggap tak menguntungkan menanamkan investasi di bisnis vaksin itu. Siapa yang akan membeli vaksin corona?

Ternyata pandemik 2020 mendunia. Semua menunggu vaksin. Tapi karena telat diteliti, vaksin untuk corona baru datang di tahun depan, Juni 2021.

Ujar Cortez, kasus Covid-19 harus membuka mata pemerintah soal penyaluran dana untuk riset ilmu pengetahuan.

Kasus Cortez di atas menjadi contoh betapa public policy dan kalkulasi bisnis sangat menentukan jenis ilmu bagaimana yang akan tumbuh karena mendapatkan dana.

Hal yang sama dengan teknologi cloning. Biotek sudah mampu mengkloning belasan hewan, mulai dari domba, kucing, tikus, onta hingga babi. Kloning adalah proses membiakkan mahluk hidup dengan mengkopi DNA secara identik, tanpa melalui hubungan seksual.

Secara ilmu dan teknologi, kini dimungkinkan jika kloning itu diterapkan pada manusia. Semata dari kaca mata ilmu pengetahuan, tiada kendala untuk memfoto kopi manusia.

Tapi public policy di banyak negara, mulai dari Amerika Serikat hingga 70 negara melarany. PBB pun ikut melawan praktek kloning itu bagi manusia.

Mengapa kloning dilarang? Masuklah perdebatan filsafat di sana, terutama di bidang etika. Apa itu yang baik dan buruk dalam hubungannya dengan kloning manusia.

Sekali lagi ini menjadi contoh. Public policy, kalkulasi bisnis, filsafat etika, ikut menentukan jenis ilmu mana yang didukung dan dilarang.

-000-

Filsafat mungkin sekarat di satu area. Tapi filsafat hidup subur di area lain. Stephen Hawking tak bisa memukul rata dengan mengatakan filsafat sudah mati.

Bahkan di salah satu puncak ilmu pengetahuan, di dunia komputer, artificial intelegence, bisnis robot, di Silicon Valley sana, mereka mempekerjakan filsuf. (5)

Sehebat apapun robot dengan artificial inteligence, ia pada awalnya tetap perlu diprogram ketika harus menghadapi pilihan nilai.

Katakanlah teknologi paling baru yang akan dikembangkan: mobil tanpa supir. Mobil itu akan dijalankan oleh super komputer dengan artificial inteligence (AI) di dalamnya. Manusia hanya duduk manis saja di dalam mobil. Tanpa supir, sang penumpang sampai di tempat tujuan.

Tapi mobil tanpa supir tetap harus diarahkan ketika menghadapi pilihan. Katakanlah di satu tikungan, terjadi peristiwa tak terduga, muncul kendaraan lain, dan kecelakaan tak terhindarkan.

Ini pilihannya. JIka mobil dibuang ke kiri akan menyebabkan kecelakaan bahkan kematian penumpang di mobil itu. Jika mobil lurus saja atau dibelokkan kanan menyebabkan kematian orang lain di luar sana.

Yang mana yang harus diprogram untuk dijalankan oleh AI (Artificial Inteligence) di mobil itu?

Bagaimana jika jumlah orang di luar itu yang mati lebih banyak? Apakah kuantitas yang mungkin mati yang dijadikan program? Semakin sedikit mati semakin dipilih untuk dijalankan AI?

Apakah yang diprogram justru kualitas manusia yang akan mati? Semakin penting orang itu, semakin dihindari untuk mati. AI diprogam kepada ukuran kualitas. TapinApa pula kriteria kualitas orang penting?

Ini semua pilihan nilai. Ia bukan lagi area ilmu pengetahuan dengan prosedur falsifikasi. Ini area filsafat.

Itu hanya contoh saja. Betapa di puncak teknologi di Silikon Valley, untuk beberapa area, para filsuf bahkan dipekerjakan.

-000-

Di puncak era dominasi ilmu pengetahuan, datanglah fenomena ini. WHO melaporkan, di tahun 2014, jumlah manusia yang bunuh diri lebih banyak dibandingkan jumlah korban perang ditambah bencana alam sekaligus.

Setiap tahun sekitar 800 ribu hingga satu juta manusia bunuh diri. Setiap 40 detik, ada satu manusia rata rata bunuh diri. (6)

Apa yang terjadi? Di zaman hadirnya dominasi ilmu pengetahuan, dan tersedianya 4300 agama untuk dipilih, juga ratusan aliran filafat, banyak manusia tak bahagia.

Sekitar 200 ribu tahun usia homo sapiens, kita tetap digerakkan oleh isu eksistensial itu. Bagaimana hidup bermakna ? Bagaimana agar bahagia?

Pada titik ini, kembali filsafat, agama dan ilmu pengetahuan bersinerji. Di bidang kosmologi, ilmu pengetahuan memimpin sebagai komando. Tapi khusus di bidang meaning of life, peran ilmu pengetahuan lebih sebagai juri dan hakim saja.

Agama dan filasafat yang menyodorkan panduan hidup bahagia. Ilmu pengetahuan melalui riset menyeleksi. Mana dari panduan itu yang terbukti secara empirik, melalui riset berulang- ulang, memang membawa makna dan kebahagiaan?

Spiritualitas baru abad 21 pun datang. Ia membawa panduan hidup bahagia dan bermakna. Panduan ini diseleksi oleh riset berulang- ulang.

Para filsuf, agamawan, ilmuwan, ideolog, investor, pemerintah, seniman, siapapun bisa berpartipasi memberikan pandangan. Namun kata akhir ada pada juri: hasil riset.

Kitapun tersadar. Di balik kecanggihan labolatorium itu. Di balik hebatnya artificial inteleligence. Di balik kecanggihan kita berfilsafat, mengutip kitab suci dan hadis.

Di balik semua itu, hadir taman hati yang sama, sejak dulu. Hati yang ingin bermakna. Hati yang ingin bahagia. Hati yang tak ingin kesepian, ditinggal, sendiri.

Semua kita, homo sapiens, apapun latar belakang kita: filsuf, agamawan, investor, ilmuwan, pejabat pemerintah. Semua kita ingin merasakan apa yang direnungkan Jalaluddin Rumi:

“Mengalirlah sungai ke dalam jiwamu. Sungai kebahagiaan. Sungai makna.”***

Juli 2020

(Bersambung)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait