Jakarta, beritalima.com|- Ketidakpastian geopolitik internasional kembali menyoroti rapuhnya ketahanan energi nasional. Anggota Komisi XI DPR RI, Andi Yuliani Paris, mendesak pemerintah segera mengambil langkah strategis terkait cadangan minyak nasional, terutama di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang berpotensi mengguncang stabilitas pasokan energi dunia.
Menurut Andi, Indonesia tidak bisa terus bergantung pada impor minyak ketika situasi global sedang tidak menentu. Pemerintah, katanya, perlu melakukan terobosan serius meningkatkan produksi minyak domestik, termasuk dengan mengoptimalkan sumur-sumur yang sudah ada serta membuka ruang pengelolaan lebih jelas bagi sumur rakyat yang memiliki potensi produksi.
“Sumur-sumur rakyat yang memiliki potensi sebaiknya diberi ruang pengelolaan yang jelas agar bisa berkontribusi pada cadangan minyak nasional,” ujar Andi saat ditemui awak media di Komplek Parlemen, Jakarta (10/3).
Politikus Fraksi PAN itu menilai, selama ini potensi produksi sumur rakyat belum sepenuhnya dimaksimalkan karena masih terbentur regulasi dan tata kelola. Padahal, jika dikelola secara legal dan terintegrasi dengan kebijakan energi nasional, sumur tersebut dapat menjadi salah satu penopang produksi minyak dalam negeri.
Di sisi lain, Andi menekankan pentingnya peran kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam mendorong peningkatan produksi migas nasional. Ia meminta pemerintah mempercepat berbagai program pengembangan di sektor hulu agar produktivitas sumur minyak, termasuk sumur tua, dapat ditingkatkan.
Salah satu langkah yang dinilai krusial adalah pemanfaatan teknologi migas yang lebih modern. Menurutnya, teknologi seperti enhanced oil recovery (EOR) perlu diperluas penerapannya agar sumur-sumur lama yang selama ini dianggap menurun produksinya tetap dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pasokan energi nasional.
Dorongan tersebut bukan tanpa alasan. Hingga akhir 2025, produksi minyak nasional masih berada di kisaran 605 ribu barel per hari—angka yang dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat.
“Ketersediaan minyak harus benar-benar dijaga. Jika pasokan terganggu dan harga BBM naik, dampaknya akan langsung terasa pada harga pangan dan berbagai kebutuhan masyarakat,” pungkas Andi.
Situasi ini menjadi pengingat, ketahanan energi bukan sekadar isu sektor migas, tapi berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Jurnalis: rendy/abri








