Jakarta, beritalima.com| – Operasi militer Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026 merupakan pelanggaran berat internasional. Operasi miloter yang diberi sandi “absolute resolve” (Penyelesaian Mutlak), berlangsung sangat singkat hampir tiga jam.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan isterinya Cilia Flores ditangkap di kediamannya, Caracas, dan langsung dibawa ke New York, AS. Operasi penangkapan sekaligus penggulingan orang nomor satu di Venezuela ini berlangsung dini hari (sekitar jam 02.00 pagi), dimana AS kerahkan 15.000 pasukan di berbagai tempat dan 150 pesawat/helicopter serta sejumlah alutsista canggihnya untuk melumpuhkan sistem keamanan di dalam negeri Venezuela.
Invasi AS ini sangat melanggar aturan hukum internasional, karena telah melanggar kedaulatan negara yang sah. Dikabarkan dari pihak Venezuela ada hampir 50 orang tewas dalam serbuan pasukan AS tersebut, dan merusak sejumlah komplek dan alutsista strategis milik Venezuela.
Apa sebenarnya yang diincar AS di Venezuela hingga harus melakukan invasi militer? Di balik tuduhan Presiden AS Donald Trump kepada Presiden Venezuele Nicolas Maduro soal perdagangan/kartel obat terlarang, sebenarnya yang mau dikuasai oleh negeri Paman Sam ini adalah kandungan minyaknya. Karena Venezuele diketahui termasuk memiliki kandungan minyak terbesar di dunia.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia (hampir 20 persen), diperkirakan sekitar 303 miliar barel, melebihi Arab Saudi. Disamping itu, potensi cadangan gas alam Venezuela menempati peringkat kedelapan di dunia. Lalu, Venezuela juga miliki beragam sumber daya mineral, seperti biji besi, bauksit untuk produksi aluminium, emas/berlian, serta nikel, tembaga, seng, dan koltan (columbite-tantalite) yang penting untuk industri teknologi dan energi bersih.
Trump seperti tak mau peduli dengan suara sejumlah pemimpin internasional mengecam kebijakan AS yang melanggar aturan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Rusia kutuk keras penangkapan Maduro sebagai “tindakan agresi bersenjata” dan pelanggaran hukum internasional. Cina “sangat terkejut” dan mengutuk penggunaan kekuatan terhadap negara berdaulat. Beijing menilai tindakan ini mengancam perdamaian regional di Amerika Latin. Iran menyebut serangan tersebut sebagai “pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan nasional”.
Bagi sekutu AS, seperti Israel dan beberapa negara besar Eropa, justru mendukung penuh kebijakan Trump. Inggris, menyatakan “tidak akan menangisi” jatuhnya rezim Maduro. Prancis turut mendukung kebijakan Trump. Spanyol menentang aksi AS, dan Paus di Vatikan menyatakan keprihatinannya karena akan berdampak bagi masyarakat Venezuela.
Di lingkungan Amerika Latin sendiri, negara seperti Meksiko dan Chile secara tegas menolak campur tangan asing dan penggunaan kekerasan, mendesak penyelesaian krisis melalui dialog multilateral. Kuba disamping menentang invasi AS di Venezuela, langsung menghubungi Rusia untuk minta dukungan keamanan di wilayahnya karena kuatir AS melakukan hal serupa.
Tindakan AS seperti mengulang dengan invasinya di Libya, Panama, Irak, Afganistan, dan beberapa negara lainnya, dimana demi mengeruk keuntungan strategis bagi negaranya, mereka kerahkan semua kekuatan untuk merebut dan bahkan membantai warga negara internasional.
Jurnalis: abriyanto








