Pemkab Gresik Berhasil Ubah Gunungan Sampah Jadi Energi EBT, 20 Persen Diolah Jadi Bahan Bakar Industri

  • Whatsapp

GRESIK, beritalima.com—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik berhasil mengubah timbunan sampah lama menjadi Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui metode landfill mining di TPA Ngipik, Desa Roomo, Kecamatan Manyar.

Dari proses pengolahan tersebut, sekitar 15 hingga 20 persen sampah dapat diubah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menegaskan, persoalan sampah membutuhkan keberpihakan anggaran yang serius. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,3 juta jiwa dan produksi sampah lebih dari 200 ton per hari, dibutuhkan langkah konkret dan terukur. Untuk itu Pemkab Gresik memberikan porsi anggaran yang cukup untuk melaksanakan program tersebut.

“Persoalan sampah tidak mungkin anggaran kecil. Tidak mungkin bisa diatasi tanpa politik anggaran,” ujarnya saat launching landfill mining di TPA Ngipik, Selasa (24/02/2026).

Melalui metode tersebut, timbunan sampah berusia 10 hingga 20 tahun digali kembali untuk dipilah dan diolah. Hasilnya, sebagian sampah yang masih memiliki nilai kalor dimanfaatkan menjadi RDF.

“Kita mendapatkan sampah 15 sampai 20 persen RDF. Karena tahun 2024 lalu kita MoU dengan PT Semen Indonesia menjadi offtaker RDF sebagai bahan EBT pengganti batubara untuk operasional industri.

Produk kami (RDF) dengan kalori cukup bagus diambil oleh PT Semen Indonesia dari timbunan sampah 15 tahun 20 tahun,” ujar Gus Yani.

RDF hasil olahan TPA Ngipik tersebut dikirim ke pabrik Tuban dan Rembang sebagai bagian dari transisi energi industri dari bahan bakar fosil menuju EBT.

Selain di TPA Ngipik, pengembangan RDF juga dilakukan di TPST Belahanrejo, Kecamatan Kedamean, dengan offtaker yang sama.

Kapasitas pengolahan direncanakan meningkat dari 25 ton per hari menjadi 100 ton per hari melalui dukungan anggaran pemerintah pusat.

“Dulu di sana 25 ton per hari, nanti akan dinaikkan 100 ton per hari,” tambahnya.

Sekda Gresik Washil Miftahul Rahman menjelaskan, fasilitas landfill mining tersebut didukung APBD 2025 sebesar Rp6 miliar dengan kapasitas input 25 ton per jam.

“Diharapkan optimalisasi secara berkelanjutan Landfill Mining,” ucapnya.

Sementara itu, Moh Supriadi, EVP of Plant Operational SIG GHoPO Tuban, mengapresiasi konsistensi Pemkab Gresik dalam merealisasikan kerja sama pengolahan RDF.

“Kami berkomitmen offtaker itu hingga permasalahan sampah bisa turun. Kapasitasnya dikirim ke pabrik Tuban dan Rembang,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Sri Subaidah menambahkan, selain menghasilkan RDF sebagai EBT, proses pengolahan juga menghasilkan tanah urug dan media tanam yang bernilai guna.

Dengan luas TPA Ngipik sekitar 9 hektare, pengembangan sampah menjadi EBT ini diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus memberi nilai tambah ekonomi dan mendukung Gresik menjadi daerah yang lebih bersih serta ramah lingkungan.

Hadir  dalam kegiatan tersebut Kapolres Gresik, AKBP Ramadhan Nasution, Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, dan OPD setempat, diantaranya,Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Abu Hassan,Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), Muhammad Hari Syawaludin, Kepala Dinas Pendidikan, Hariyanto.(ADV)

Jurnalis: Moh Khoiron

beritalima.com

Pos terkait