Pendewasaan Beragama

  • Whatsapp

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021

Muhamad Wahyuni Nafis
(Ketua Nurcholish Madjid Society—NCMS)
 
Membaca buku Denny JA, 11 Fakta Era Google, Bergesernya Agama dari Kebenaran Mutlak Menjadi Kekayaan Kultural Milik Bersama (Januari 2021), membuat saya sangat tergugah dan terperanjat—bagaikan terbangun dari tidur nyenyak.

Nafas menjadi lebih cepat, keringat dingin juga tiba-tiba membasahi baju yang menenpel di badan. Seperti ditinggal mati seseorang yang dicintai, meski yakin setiap orang pasti akan mati, berita kematiannya tetap mengagetkan.

beritalima.com

Data yang disuguhkan oleh Denny di buku ini benar-benar menyebabkan apa yang saya tulis di atas terjadi.

Segera saya menarik nafas dalam-dalam. Pikiran saya menerawang ke berbagai pengetahuan yang pernah saya pelajari. Mulailah kedewasaan berpikir timbul. Ketenangan dalam membaca dan memahami paragraf-demi paragraf uraian Denny dalam buku ini mulai saya rasakan.

beritalima.com

Namun memang perlu diakui, data-data yang disajikan dalam buku ini sungguh menohok kaum beragama.

Agama seakan menjadi tidak lagi penting di ranah kehidupan pribadi dan sosial sehari-hari.

Agama tidak membuat bahagia pemeluknya. Agama tidak membuat bersih pemerintahannya. Agama tidak menjadikan SDM di suatu negara berkembang. Agama tidak berkontribusi pada kecerdasan masyarakat.

Dua agama besar—Kristen dan Islam—meyakini kebenaran yang saling bertolak-belakang, dan diyakini oleh lebih satu miliar manusia selama lebih dari 1000 tahun.

Adam, Nuh, Musa, adalah tokoh fiktif karena tidak terdukung oleh fakta ilmiah, alias bukan kisah sejarah yang sebenarnya.

Negara yang paling sejahtera masyarakatnya justru tidak merujuk pada Kitab Suci.

Terdapat 4.300 agama yang berbeda, yang para fanatiknya mengklaim berbagai kebenaran mutlak yang saling tak identik.

Agama, setelah ditinggal para pendirinya, memunculkan terjadinya berbagai tafsir dari para pengikutnya, dari mulai hal pokok sampai hal teknis.

Perayaan hari-hari besar agama semisal Natal, diyakini sebagai perayaan kultural, karena itu dirayakan tidak hanya oleh para penganut Kristen, melainkan juga dirayakan oleh orang-orang yang tidak meyakininya.

HAM menghargai kebebasan beragama dan tidak beragama, sejauh tak ada pemaksaaan dan kekerasan kepada pihak lain.

Data menyuguhkan orang-orang yang tidak meyakini agama apa pun menjadi segmen ketiga terbesar di dunia setelah Kristen dan Islam.

Singkatnya, data yang ditampilkan Denny di buku ini, berbicara bahwa agama di negara yang paling mampu membuat warganya bahagia tidak berkontribusi pada kebaikan hidup pribadi dan sosial.

Malah justru sebaliknya, agama seakan ikut berkontribusi pada aneka keburukan yang timbul di wilayah individu, sosial, politik, budaya, pendidikan, ekonomi, dan seterusnya.

Berbagai fakta rasional dan alami di atas seakan benar-benar telah memporak-porandakan fondasi keyakinan kaum beragama.

Nabi Musa dianggap tokoh fiktif, karena sebelumnya pernah ada kisah serupa Raja Sargon. Mekkah sebagai kota asal kelahiran Islam digoyang dengan menyodorkan Petra.

Banjir bah zaman Nabi Nuh diragukan terjadi karena tidak terdukung fakta-fakta alami.

Nasrani meyakini Isa yang disalib. Islam meyakini yang disalib bukan Isa, tapi orang lain yang diserupakan.

Nasrani meyakini Ibrahim mengurbankan Ishak. Islam meyakini Ibrahim mengurbankan Ismail—meski keduanya tidak jadi dikurbankan.

Natal, Nyepi,  Gong Xi Fat Chai, dan lain-lain dirayakan tidak hanya oleh para pemeluk agama yang bersangkutan, melainkan juga dirayakan oleh orang-orang di luar pemeluk agama bersangkutan.

Ini semua karena di era Google ini, oleh sebagian, perayaan agama-agama tersebut dinilai sebagai perayaan kultural belaka. Denny menilai berbagai fenomena tersebut sebagai hal yang positif, sebagai kekayaan kultural milik bersama.

-000-

Dari bermacam data yang disajikan dalam buku ini, saya membagi pembahasan Denny ke dalam tiga kotak besar.

Kotak besar pertama, buku ini sedang menyuguhkan gap yang menganga antara ajaran agama di satu sisi, dan perilaku penganutnya di sisi lain.

Gampangannya bisa dikatakan, bahwa tingginya ajaran agama tidak paralel dengan moral para penganutnya. Itu berarti keluhuran ajaran pada agama-agama tidak mampu dipraktikkan oleh individu para penganutnya dalam kehidupan sehari-hari.

Secara konyol bisa dikatakan bahwa semua itu terjadi karena salah penganutnya yang tidak mampu mengamalkan keluhuran ajaran agama. Bukan salah agamanya.

Terhadap pernyataan yang terakhir ini, orang semacam Sidney Hook misalnya, pernah mencibir dengan menyatakan bahwa, kalau begitu untuk apa tingginya ajaran agama jika pemeluknya tidak mampu mempraktikkannya.

Hook benar. Tapi itulah yang terjadi. Itulah realitasnya.

Kotak besar kedua, Denny seakan membenturkan kebenaran-pengetahuan dengan kebenaran-keyakinan.

Kebenaran-pengetahuan yang dikawal dua dasar epistemologi rasionalisme dan empirisme, jelas membuat kebenaran-keyakinan nyaris sekarat.

Untuk menyelamatkan kebenaran agama dari serangan semacam ini, sebagai kaum beragama biasanya berkilah, bahwa Kitab Suci memang bukanlah buku sejarah.

Juga kitab suci bukan merupakan kebenaran-kebenaran yang langsung dan telanjang, melainkan sebagian besarnya–terutama berkaitan dengan kisah-kisah—merupakan mitos-mitos.

Tentu mitos di sini bukan dalam pengertian yang salah kaprah dianut oleh banyak orang sebagai suatu kebohongan. Tapi mitos di sini dalam pengertian symbol atau kisah yang mengandung banyak makna yang ingin disampaikan.

Karena itu, dalam hal memahami berbagai kisah dalam Kitab Suci misalnya, bukan detail dan data-data historis yang ingin ditampilkan, melainkan what is the moral behind the story.

Jika Alquran misalnya, tidak disampaikan dalam bentuk mitos-mitos, maka besar kemungkinan—untuk tidak mengatakan pasti—akan banyak sekali ayat-ayatnya yang segera obsolete, masuk keranjang sampah, masuk museum, alias tidak berguna lagi.

Kotak besar ketiga, menarik, setelah seolah Denny menyodorkan berbagai data yang seakan memporak-porandakan doktrin keagamaan, Denny memberi contoh bagaimana sikap beragama yang benar di era Google.

Yaitu dengan cara—dalam bahasa saya—merenungi dan menggali esensi-esensi ajaran dan nilai yang terkandung dalam Kitab Suci.

Dari cara pandang yang berbeda, ternyata Denny memandang agama masih sangat dibutuhkan.

Di sini Denny tidak lagi membenturkan kebenaran-pengetahuan yang rasional dan empiris dengan kebenaran-keyakinan yang—meminjam bahasa Iqbal—supra-rasional.

Berbeda, misalnya, dengan seorang pemikir semacam Yuval Noah Harari dan Richard Dawkins, Denny tidak hanya menampilkan sebagai sosok spiritualis, melainkan juga religius.

Apa yang saya nyatakan di atas terlihat pada tiga poin penting yang Denny paparkan berikut.

Poin penting pertama, beragama di era Google ini, menurut Denny, memerlukan tiga kunci penentu, yaitu social trust, freedom to make life choice dan social support.

Denny memahami social trust sebagai keakraban warga negara. Dalam pandangan Denny, keakraban tersebut akan tumbuh—dalam bahasa saya—jika setiap warga negara memiliki apa yang disebut positive thinking (husnu zhann).

Sebaliknya, kebencian, nyinyir, permusuhan, sikap sektarian, fanatisme agama, adalah hal-hal yang merusak tumbuhnya social trust. Freedom to make life choice, juga tidak kurang pentingnya.

Ia memberi kesempatan kepada setiap individu untuk menjadi diri sendiri (be your self) sejauh tidak melakukan pemaksaan kehendak dan kriminal.

Termasuk dalam hal ini ialah pilihan beragama atau tidak beragama bagi seseorang, dan berpaham menurut keyakianan dan pengetahuannya.

Social support, adalah dukungan dari lingkungan, terutama menyangkut program kesejahteraan warga negara yang diupayakan pemerintah.

Poin penting kedua, Denny menemukan adanya tiga harta karun yang ditemukan di samudra spiritualitas.

Tiga harta karun itu, Denny menyebutnya tiga berlian biru, karena ia adalah batu termahal di muka bumi.

Tiga berlian biru inilah yang menurutnya menjadi irisan agama-agama dan kepercayaan. Tiga berlian biru itu adalah the golden rule, power of giving dan the oneness. The golden rule adalah kebajikan semua agama-agama besar di dunia.

Apa yang Anda senang orang lain melakukan sesuatu kepada anda, maka Anda pun harus melakukannya kepada orang lain. Demikian yang anda tidak suka orang lain melakukan sesuatu kepada Anda, janganlah Anda melakukannya kepada orang lain.

Power of giving, ini sangat penting, karena sudah pasti ada sekelompok orang yang lemah dalam kehidupan ini yang membutuhkan uluran tangan yang kuat. Maka bantulah orang lain yang Anda bisa membantunya.

The oneness, menjadi lebih penting lagi di era global ini mengingat ia merupakan suatu pandangan bahwa semua umat manusia ini adalah satu, juga di dalamnya alam semesta. Karena itu, tugas menjaga manusia dan alam semesta menjadi tanggung jawab bersama.

Tiga berlian biru itu disebutnya sebagai “Spiritual Blue Diamonds”.

Poin penting ketiga, Denny menemukan Sepuluh Mutiara yang menurut pengakuannya digali dari 30 juz Alquran sepanjang 30 malam bulan Ramadhan.

“Bagi saya pribadi, 10 mutiara ini sudah cukup menjadi pedoman hidup selaku individu, ataupun sebagai aktivis yang memiliki cita-cita sosial. 10 mutiara ini sudah mampu membuat hidup saya bermakna, berbahagia dan berjuang”, begitu ungkap Denny di buku ini (halaman. 112).

Kesepuluh Mutiara ini, menurut saya penting, karena itu saya meringkasnya.

Pertama, prinsip tawhid, bebaskan diri dari tuhan-tuhan kecil.

Denny meyakini betul bahwa tawhid adalah sangat membebaskan pribadi yang meyakininya. Dengan berkomitmen menjaga dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan, Denny meyakini betul bahwa tawhid mengajarkan seseorang untuk terus mengorientasikan hidupnya hanya kepada Tuhan.

Kedua, tegakkan keadilan, walau langit runtuh.

Denny memandang keadilan ini sebagai hal pokok dalam kehidupan. Setiap orang harus menegakkannya meski terhadap orang tua.

Berbagai pemerintah dan kekuasaan di masa lampau, yang super power sekalipun, jika tidak menegakkan keadilan, ia akan runtuh dan binasa.

Ketiga, toleransi: jangan ada paksaan dalam agama.

Poin penting dalam hal ini adalah bahwa kemajemukan merupakan sunnatullah, dan tidak boleh ada paksaan dalam hal agama, atau interpretasi atas agama.

Setiap orang telah melihat mana yang benar dan mana yang salah sesuai kapasitasnya.

Keempat, derma, sedekah: bantu mereka yang lemah.

Bagi Denny, berderma, bersedekah dan membantu orang yang kurang beruntung, adalah satu-satunya cara masyarakat secara bersama untuk survive.

Kelima, bersatulah orang-orang saleh, cari titik-temu.

Hal penting dari Mutiara ini adalah bahwa keselamatan akan diperoleh bagi siapa saja asalkan ia beriman kepada Tuhan dan hari akhir serta beramal shaleh kepada sesama manusia.

Yang lain, Tuhan tidak melarang bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda keimanan, selama mereka tidak berbuat zalim.

Keenam, berdakwahlah dengan teladan.

Berdakwah yang paling efektif adalah dengan cara memberikan contoh teladan. Ini sangat penting, mengingat dewasa ini di Tanah Air utamanya, krisis keteladanan ini sangatlah nyata.

Ketujuh, rekomitmen pada jalan yang lurus, lagi dan lagi.

Menurut Denny, berdoa, mengingat Allah dan terus meminta petunjuk, adalah suatu cara agar setiap orang berkomitmen pada jalan yang lurus.

Kedelapan, bersyukurlah. Apa pun realitas di hadapan kita, syukurilah.

Mengenai realitas itu belum memenuhi harapan, maka ikhtiarlah untuk ke depannya agar mendapatkan yang lebih baik. Itulah salah satu cara yang membuat hidup bahagia.

Kesembilan, maafkan dan move on. Tak satu pun manusia yang tidak pernah bersalah. Karena itu. memberi maaf dan memaafkan menjadi sangat penting bagi kehidupan setiap orang.

Kesepuluh, jujur dan jaga amanah.

Setiap orang sudah mengetahui mana yang haq dan mana yang batil. Maka janganlah dicampuradukkan antara yang haq dan batil.

Dalam hal amanah, sangat terkait dengan keadilan. Karena itu, soal jujur dan jaga amanah ini erat terkait dengan soal integritas, nilai yang sangat penting dalam kehidupan setiap orang.

Demikian apa yang bisa saya review dari buku Denny yang sarat data, sarat makna, dan memiliki daya gugah religius bagi yang membacanya.

Hal terpenting dari semuanya, isi buku ini menjadikan orang yang memahaminya mengalami proses pendewasaan dalam beragama. Semoga! *

-000-

beritalima.com beritalima.com

Pos terkait