Jakarta, beritalima.com|- Perang di Bulan Suci Ramadan di kawasan Timur Tengah (Timteng) antara AS-Israel versus Iran yang seharusnya menjadi momentum mempererat persaudaraan, menjadi perhatian Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin serta mendesak agar pihak yang berseteru segera berdamai.
Pernyataan itu disampaikan Sultan (18/3) menanggapi eskalasi konflik melibatkan Iran dengan sejumlah negara Arab di Timteng. Ia menegaskan, serangan yang terjadi bukan hanya menyasar kepentingan militer, tapi juga berdampak luas terhadap fasilitas publik, kawasan pemukiman, hingga aset ekonomi warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Yordania dilaporkan menjadi target serangan rudal dan drone. Meski demikian, negara tersebut masih menahan diri guna mencegah konflik meluas menjadi krisis kawasan lebih besar.
Menurut Sultan, situasi ini semakin memprihatinkan karena pihak-pihak yang terlibat merupakan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Ia menilai, semestinya negara-negara Muslim bersatu menjaga stabilitas kawasan, bukan justru terjebak dalam konflik yang berpotensi memecah belah persaudaraan umat.
“Permusuhan antarnegara Muslim hanya akan menguntungkan pihak luar yang ingin memecah belah,” tegasnya. Ia pun mengimbau pihak bertikai untuk segera menghentikan serangan, apalagi menjelang Hari Raya Idul Fitri yang seharusnya menjadi simbol kemenangan dan rekonsiliasi.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia disebut memiliki kepedulian mendalam terhadap konflik ini. Sultan menyebut, Indonesia tetap konsisten pada prinsip politik luar negeri bebas aktif—tidak terlibat dalam konflik, namun aktif mendorong perdamaian dan stabilitas global.
Lebih jauh, Sultan yang menjabat Ketua Dewan Pembina Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) mendorong agar OKI segera menggelar pertemuan darurat tingkat kepala negara. Langkah ini dinilai penting untuk mencari solusi konkret menghentikan konflik yang tak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga mengguncang perekonomian negara-negara di kawasan.
Ia mengingatkan kembali semangat Deklarasi Jakarta 2016 sebagai landasan persatuan negara-negara Muslim. “OKI harus mengambil langkah strategis untuk menjaga persatuan dan menyelesaikan perbedaan secara damai,” ungkapnya.
Jurnalis: rendy/abri








