Perjuangkan Keterwakilan Perempuan di DPRD Gresik, Khayanah Siap Bertarung di Dapil Dukun-Panceng

  • Whatsapp
Khayanah Caleg Partai Demokrat Dapil VI Kecamatan Panceng-Dukun, (kerudung hijau) bersama pendukungnya siap berjuang meraih kursi DPRD Gresik.(Ron)

GRESIK,beritalima.com-Tingkat keterwakilan perempuan yang duduk di DPRD Gresik tergolong masih sangat rendah. Padahal keterlibatan perempuan adalah elemen yang penting dalam penentuan kebijakan di masyarakat.

Jika mengacu pada hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, keterwakilan perempuan yang duduk di DPRD Gresik jauh dari ambang minim 30 persen.

Tercatat hanya ada 7 perempuan yang berhasil memenangkan kontestasi dari jatah 50 kursi DPRD Gresik, yakni Nur Saidah (Gerindra) Hudaifah (PKB), Siti Fatimah (PKB), Jammiyatul Mukarromah (PKB), Komsatun, (Golkar), Ifta Hidayati, (Demokrat), dan Lilik Hidayati, (PPP).

Atas minimnya perempuan tersebut, menggelitik bagi para Calon Legislatif (Caleg) perempuan yang akan maju di Pileg DPRD Gresik 2024.

Salah satunya, Khayanah, salah satu Caleg perempuan dari dapil VI (Kecamatan Dukun-Panceng).

Perempuan alumni Ponpes Ihyaul Ulum, Kecamatan Dukun ini maju gelaran demokrasi tersebut karena tertantang ingin masuk dalam parlemen untuk meningkatkan keterwakilan kaum perempuan atau setidaknya memperbanyak berpartisipasi perempuan dalam politik.

Dia mengatakan, saat ini perempuan elemen penting penentu kebijakan di masyarakat. Apalagi sudah banyak contoh perempuan yang punya kapasitas dan kapabilitas yang masuk dipergulatan politik, pendidikan, sosial, budaya dan agama.

“Kalau zaman dulu perempuan disepelehkan karena kuatnya sistem patriarki. Tapi sekarang kita lihat, ada banyak perempuan yang berperan di semua lini, termasuk politik,” kata Khayanah yang didapilnya mendapat nomor urut 4 tersebut.

“Bisa kita lihat sekarang ini Perempuan Indonesia tidak lagi terkurung dalam kegelapan intelektual, perempuan sekarang sudah banyak yang berkarir dan berkarya baik didunia pendidikan maupun politik,” sambung Khayanah.

Meski tidak mudah masuk parlemen, Namun Dia berusaha semaksimal mungkin untuk menang. Apalagi berkontestasi di pileg ini adalah pengalaman pertamanya, sehingga butuh strategi yang ekstra untuk bisa lolos.

Lebih lanjut, menurut Khayanah, peran perempuan di parlemen, diharapkan memberikan keseimbangan untuk merumuskan peraturan perundang-undangan, dan pengawasan.

“Perempuan memang harus punya keterwakilan menyuarakan kepentingan politik secara mandiri agar tidak ada diskrimnasi kebijakan terhadap perempuan,” tutur perempuan kelahiran Desa Jrebeng, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik ini.

Ditanya terkait masih kuatnya budaya patriaki di masyarakat, Khayanah menyadari bahwa itu salah satu tantangan terberatnya dan perlu dilakukan penyadaran.

“Banyaknya asumsi dari masyarakat awam yang mengatakan bahwa perempuan dibilang kurang mampu dalam memimpin. Asumsi inilah yang harus kita musnahkan karena sama saja merendahkan derajat perempuan, padahal mereka memiliki peran penting dalam memajukan negara,” tegasnya.

Dia berharap, di 14 Februari 2024 (Saat mencoblos Pileg) masyarakat memilih caleg dari perempuan. “Mari kita dukung perempuan agar bisa duduk dikursi parlemen,” pungkasnya.(Ron)

beritalima.com

Pos terkait