SIDOARJO, beritalima.com | Politisi sejati tak pernah berhenti berkreasi. Tidak miskin ide dan gagasan. Dia pahami bahwa inovasi menjadi nafas perjuangan sekaligus penanda kemampuan membaca zaman. Ketika ruang politik formal tampak senyap, politisi yang smart, cerdas, justru melihat peluang di balik peristiwa lokal yang kerap luput dari perhatian.
Kabupaten Sidoarjo tahun 2026 memang tidak menghadapi agenda pemilihan umum besar. Namun demikian, dinamika politik tetap bergerak lewat Pemilihan Kepala Desa di sejumlah kecamatan. Pilkades menghadirkan arena politik yang hidup, dekat dengan warga, serta sarat relasi sosial yang konkret.
Bagi partai politik, Pilkades dapat diposisikan sebagai pintu masuk membangun jejaring elektoral jangka panjang. Desa merupakan unit sosial paling dasar yang membentuk preferensi politik masyarakat.
Mengabaikan Pilkades sama artinya membiarkan ruang strategis dikelola tanpa kehadiran partai. Karakter masyarakat Sidoarjo relatif terbuka terhadap figur lokal yang memiliki kedekatan emosional, rekam jejak sosial, dan kemampuan komunikasi yang santun.
Ikatan kekerabatan, relasi keagamaan, serta aktivitas sosial menjadi faktor penentu dalam pembentukan kepercayaan publik. Dalam konteks tersebut, tokoh desa memiliki posisi sentral. Kepala desa dipandang bukan hanya sebagai administrator, tetapi juga sebagai pengayom sosial.
Dukungan terhadap figur calon kepala desa sering kali lahir dari interaksi keseharian, bukan dari kampanye simbolik semata. Partai politik perlu membaca kondisi ini dengan cermat. Langkah awal dapat dilakukan melalui pemetaan tokoh desa yang memiliki pengaruh kuat dan diterima lintas kelompok.
Pendekatan persuasif melalui kader partai di tingkat lokal menjadi kunci membangun komunikasi awal. Pengumpulan data secara sistematis juga diperlukan. Survei sederhana berbasis persepsi warga dapat membantu partai mengenali figur potensial, peta kekuatan sosial, serta isu yang menjadi perhatian masyarakat desa.
Data tersebut sangat berguna sebagai dasar pengambilan keputusan politik. Komunikasi politik yang dibangun sejak dini akan menciptakan hubungan saling percaya. Partai tidak hadir sebagai penumpang momentum, tetapi sebagai mitra strategis bagi tokoh desa yang hendak berkontestasi. Relasi semacam ini berpeluang tumbuh menjadi loyalitas politik jangka panjang.
Dalam praktiknya, pimpinan partai dapat membuka ruang dialog politik dengan calon kepala desa. Kesepakatan politik berbasis kepentingan bersama dapat dirumuskan secara realistis dan etis, dengan tujuan memperkuat basis elektoral partai di tingkat desa.
Keuntungan politik dari keterlibatan dalam Pilkades cukup signifikan. Partai memperoleh akses jejaring sosial desa, peningkatan visibilitas tanpa biaya politik besar, serta penguatan citra sebagai organisasi yang hadir di akar rumput.
Selain itu, Pilkades menjadi sarana kaderisasi politik informal. Kader partai dapat belajar langsung mengelola konflik, membangun komunikasi publik, serta memahami psikologi pemilih desa yang cenderung rasional sekaligus emosional.
Bagi masyarakat Sidoarjo yang dikenal pragmatis dan menilai kinerja secara nyata, kehadiran partai dalam proses sosial desa akan membentuk persepsi positif. Partai dinilai relevan ketika mampu memberi manfaat langsung dan mendukung stabilitas sosial.
Dengan membaca Pilkades sebagai peluang strategis, partai politik dapat menyiapkan fondasi elektoral menuju kontestasi yang lebih besar. Politik desa bukanlah pinggiran, tetapi ladang awal membangun kepercayaan publik yang berkelanjutan. (Penulis: Mas Hery – Kader Hanura Jawa Timur) (Gan)
Teks Foto: Mas Hery








