Blora, beritalima.com|- Dialog Interaktif Ramadhani yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Masyarakat Adat Nusantara (Matra) Kabupaten Blora (Jawa Tengah), diantaranya membahas makna penting bukan suci Raman ajarkan nilai kedisiplinan, kerja keras dan kepedulian sosial.
Diskusi yang berlangsung di Kesekretariatan Bersama Matra dan Satupena Kabupaten Blora, menghadirkan sejumlah tokoh penting di Kabupaten Blora (28/2).
Dikemukakan, momentum Ramadan dimaknai sebagai momentum transformasi mental menuju kemandirian ekonomi. Hal itu mengemuka dalam Dialog Interaktif Ramadhani yang digelar Sabtu malam.
Forum menghadirkan Ir. Siswanto sebagai narasumber utama dan Kusharyadi narasumber pembanding. Turut hadir Sugirusyono, Gunawan Trihantoro, Sugiyono, serta Sucipto dan tokoh masyarakat lainnya.
Siswanto menyatakan, kemandirian ekonomi merupakan fondasi membangun mata rantai sosial budaya bangsa. Kemandirian dimaknai sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan tanpa bergantung pada pihak luar.
Menurutnya, pendidikan formal dan non-formal menjadi pilar utama pembentuk pola pikir mandiri. Dari pendidikan lahir kreativitas, inovasi, serta produk barang dan jasa unggulan yang bernilai jual tinggi.
Ia menekankan pentingnya kebijakan pemerintah menyasar desa sebagai basis penguatan ekonomi. Program kemandirian pedesaan dinilai strategis memperkuat ketahanan ekonomi dari level terbawah.
Ada empat kunci bagi Siswanto merumuskan keberhasilan ekonomi inklusif. Pertama, komunikasi efektif antara pembuat kebijakan dan masyarakat. Kedua, sosialisasi serta pelatihan berkelanjutan bagi pelaku usaha mikro.
Ketiga, komitmen menjalankan aturan secara konsekuen, dan keempat konsistensi pelaksanaan agar program tidak terhenti di tengah jalan.
Sementara Kusharyadi menyoroti dimensi nilai dan budaya dalam pembangunan ekonomi. Ia menegaskan penggerak utama kemandirian bukan semata modal materi, melainkan tata nilai hidup masyarakat.
Nilai-nilai seperti guyub rukun, saling percaya, dan etos kerja kolektif disebut sebagai modal sosial fundamental. Masyarakat yang menjunjung kebersamaan diyakini memiliki daya tahan ekonomi yang lebih kuat.
“Jika tata nilai hidup tertanam dengan baik, maka sistem ekonomi akan mengikuti. Integritas dan mentalitas pelaku menjadi penentu keberhasilan,” jelasnya.
Diskusi menyinggung peran generasi Z sebagai motor penggerak masa depan. Generasi yang lahir 1997–2012 dinilai memiliki potensi besar, namun memerlukan teladan serta stimulasi nilai juang melalui pendidikan dan keluarga.
Forum menyimpulkan Ramadan mengajarkan disiplin, kerja keras, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut diyakini mampu memperkuat rantai budaya dan ekonomi bangsa bila diterapkan secara konsisten.
Jurnalis: dedy/abri








