Ramadan Khataman dengan Al-Qur’an Braille, Kenapa Tidak?

  • Whatsapp
Ramadan Khataman dengan Al-Qur’an Braille, kenapa tidak? (Foto: Sindonews)

Makassar, beritalima.com|- Di tengah derasnya hujan mengguyur kawasan Lego-Lego CPI (centre point of Indonesia) Makassar, Sulawesi Selatan (7/3), sebuah peristiwa sederhana namun sarat makna berlangsung di Masjid 99 Kubah.

Komunitas Gammara Inklusi menggelar khataman Al-Qur’an Braille bersama difabel netra. Pertanyaannya: apakah kita sudah benar-benar memastikan kitab suci ini bisa diakses oleh semua umat Islam, tanpa terkecuali?

Ramadan selalu dipenuhi ritual yang mengikat hati umat. Namun, khataman Al-Qur’an Braille ini mengingatkan kita bahwa ibadah bukan hanya soal membaca ayat, melainkan juga soal membuka ruang kesetaraan.

Ketika hujan memaksa panitia berpindah lokasi, semangat inklusi tetap terjaga. Bukankah ini simbol bahwa inklusi sejati harus mampu bertahan dalam segala situasi, bahkan ketika rencana berubah?

Di balik kehangatan acara, terselip kenyataan getir: akses terhadap Al-Qur’an Braille masih sangat terbatas. Pertanyaan publik pun muncul: mengapa kebijakan pendidikan inklusif di Indonesia sering berhenti pada slogan? Mengapa mushaf Braille belum menjadi fasilitas standar di masjid-masjid besar? Mengapa komunitas seperti Gammara Inklusi harus berjuang sendiri, sementara negara mengaku menjunjung tinggi hak difabel?

Suara Andi Fajrin, difabel netra sekaligus perwakilan Gammara Inklusi, menggema: “Al-Qur’an adalah untuk semua.” Kalimat sederhana ini menyentuh, karena di baliknya ada kisah panjang perjuangan difabel netra yang sering dipinggirkan. Kehadiran relawan dan masyarakat yang ikut mendukung khataman menjadi bukti inklusi bukan teori, melainkan pengalaman nyata yang menyatukan hati.

Kritik harus diikuti solusi. Apa yang bisa dilakukan? Pemerintah wajib memasukkan literasi Braille dalam kurikulum madrasah dan sekolah inklusi.

Di Masjid dan lembaga keagamaan disediakan mushaf Braille sebagai fasilitas standar, bukan sekadar simbol. Ini perlu dukungan masyarakat luas, baik kehadirannya, lewat atau sebagai relawan.. Peran media dalam menyoroti isu inklusi agar tidak tenggelam di balik hiruk-pikuk politik turut membantu.

Khataman Al-Qur’an Braille di Masjid 99 Kubah bukan sekadar acara Ramadan. Ia adalah cermin inklusi adalah ibadah sosial, sebuah panggilan untuk memastikan tidak ada satu pun saudara kita yang tertinggal dalam perjalanan spiritual.

Jika gerakan ini berlanjut, bukan mustahil suatu hari nanti setiap masjid di Indonesia memiliki mushaf Braille, setiap sekolah menyediakan akses inklusif, dan setiap Ramadan menjadi bulan di mana kesetaraan benar-benar hadir.

Apakah kita rela membiarkan sebagian umat Islam tetap “tidak tau” terhadap Al-Qur’an hanya karena sistem belum memberi mereka akses?

Jurnalis: abdul hadi/abri

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait