SURABAYA, Beritalima.com-
Insiden mengenaskan terjadi pada siswa berusia 10 tahun kelas V SD di kabupaten Ngada NTT, yang terpaksa mengakhiri hidupnya karena orang tuanya tidak mampu membelikan buku dan pulpen.
Peristiwa tragis tersebut menggambarkan kehidupan nyata masyarakat miskin ekstrim. Bukan hanya di NTT. Di Jawa Timur sendiri, penduduk miskin ekstrim juga masih banyak.
Menanggapi kisah pilu tersebut, anggota DPRD provinsi Jatim Dr Rasiyo menyatakan keprihatinannya yang mendalam terhadap siswa bernama YS ini.
“Saya ikut prihatin dan berduka. Seharusnya peristiwa naas tersebut tidak perlu terjadi,” terang mantan Sekretaris pemprov Jatim ini.
Menurut Rasiyo, di kabupaten Ngada ada dinas pendidikan, ada instansi kecamatan, kelurahan, RW dan RT. Seharusnya masyarakat setempat bisa melakukan pendataan warganya, bisa dimaping, mana yang benar-benar membutuhkan bantuan dan disebut sebagai Dasil 1 dan 2.
“Kalau warganya benar-benar miskin kan ada tunjangan dari pemerintah. Ada dana BOS ( Bantuan Operasional Sekolah), ada BOPP (Biaya Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan). Kenapa sampai ada warganya yang benar-benar miskin kok aparatnya tidak tahu?,” cetusnya.
Anggota komisi E DPRD provinsi Jawa Timur ini menegaskan, bahwa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan harus ditingkatkan. Dengan adanya hubungan yang berkesinambungan bisa meningkatkan kesejahteraan bersama.
“Saya menyayangkan juga, kenapa wali kelas nya tidak memberikan perhatian, tidak memiliki kepedulian. Wali kelas itu guru yang memiliki hubungan paling dekat dengan siswa-siswanya. Seharusnya wali kelas menyadari, memahami bahwa salah satu siswanya hidupnya kurang beruntung. Jadi seharusnya dia ikut membantu memberikan informasi dan meminta bantuan sekolah untuk memberikan fasilitas kepada siswa yang tidak mampu,” tukasnya.
Rasiyo menambahkan, meskipun dana transfer dari pemerintah pusat mengalami penurunan, bukan berarti mutu pendidikan harus berkurang.
“Semoga kisah pilu dari NTT ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Terutama dinas pendidikan. Di Jatim sendiri, Alhamdulillah ibu gubernur memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan, bahkan dinas pendidikan mendapatkan tambahan anggaran diatas 20 persen dari APBD. Pendidikan itu sangat penting, jadi wajib bagi pemegang kebijakan untuk selalu mengutamakan pendidikan dalam meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) masyarakat,” pungkasnya.(Yul)








