Jakarta, beritalima.com|- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. atau akrab disapa Gus Hilmy, meminta pemerintah mengevaluasi keikutsertaan Indonesia dalam forum internasional Board of Peace (BoP).
Menurutnya, komitmen menegakkan keadilan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto harus tercermin pula dalam sikap politik luar negeri Indonesia.
Sebelumnya, Prabowo meminta doa para ulama agar pemerintah mampu menghadapi berbagai tantangan bangsa serta menegakkan kebenaran dan keadilan. Gus Hilmy menilai pesan tersebut penting diterjemahkan secara konsisten dalam kebijakan diplomasi Indonesia di panggung global.
“Jika kita berbicara tentang menegakkan keadilan dan kebenaran, maka sikap Indonesia dalam forum internasional juga harus mencerminkan nilai tersebut. Kita tidak boleh terlihat berada dalam forum yang diisi negara-negara yang justru melakukan intervensi militer terhadap negara lain,” ujar Gus Hilmy dalam keterangannya (11/3).
Menurut senator asal Daerah Istimewa Yogyakarta itu, gelombang desakan agar Indonesia meninjau kembali partisipasinya dalam BoP yang digagas perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Forum tersebut disebut digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Gus Hilmy menekankan, keterlibatan Indonesia dalam berbagai organisasi internasional sebenarnya bukan persoalan selama memberi manfaat nyata bagi kepentingan nasional. Ia mencontohkan partisipasi Indonesia dalam Organisasi Kerja Sama Islam, keanggotaan di Organization of the Petroleum Exporting Countries, hingga keterlibatan terbaru dalam BRICS.
“Prinsip politik luar negeri bebas aktif memberi ruang bagi Indonesia untuk terlibat dalam forum internasional mana pun. Namun pijakannya tetap kepentingan nasional dan kontribusi nyata terhadap perdamaian dunia,” jelasnya.
Meski demikian, Gus Hilmy menilai persoalan etis perlu dipertimbangkan jika Indonesia berada dalam forum yang diisi negara-negara yang selama ini dikenal melakukan intervensi militer atau pendudukan wilayah negara lain. Indonesia, tambahnya, lahir dari perjuangan panjang melawan kolonialisme sehingga harus berhati-hati dalam menentukan posisi diplomatik.
Ia menyinggung eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang memicu ketegangan dan kerusakan di berbagai wilayah.
“Jika kita berada dalam forum tersebut tanpa sikap kritis, Indonesia bisa dipersepsikan ikut memberi legitimasi terhadap praktik kekuasaan yang bertentangan dengan prinsip kedaulatan negara,” tegasnya.
Menurut Gus Hilmy, kritik dari berbagai tokoh nasional terhadap keterlibatan Indonesia di BoP menunjukkan adanya kegelisahan publik yang perlu dijawab pemerintah secara terbuka.
“Jangan sampai Indonesia terlihat plinplan. Kita berbicara tentang independensi dan perdamaian dunia, tetapi langkah diplomasi kita justru dipersepsikan tidak sejalan dengan prinsip tersebut,” bahasnya.
Lebih jauh, Gus Hilmy ada pandangan menyebut “Indonesia berada di bawah bayang-bayang Amerika Serikat bisa merugikan secara politik, bahkan berpotensi memengaruhi penilaian publik terhadap kepemimpinan nasional ke depan.”
Jurnalis: rendy/abri








