Jakarta, beritalima.com|- Salah satu peristiwa sejarah penting yang terjadi pada 1 Maret 1949, sebagai cermin masyarakat Indonesia tak mudah tunduk dan menyerah dengan penjajah (Belanda).
Belanda pada Desember 1948 ingin kembali kuasai RI dengan memborbardir Yogyakarta saat itu dimana ada Presiden Soekarno dan Hatta. Tiga tahun merasakan Proklamasi Kemerdekaan ternyata akan dirusak oleh Belanda.
“Di sinilah titik penting sejarahnya. Sri Sultan Hamengkubuwono IX ternyata tak ingin wilayahnya dijajah kembali yang otomatis Indonesia di mata internasional bukan lagi sebuah negara yang mandiri dan merdeka. Di sini ada kolaborasi Sri Sultan dengan Jenderal Soedirman untuk melakukan perlawanan mendadak kepada Belanda,” kata Letkol Caj Anggi Salamun, Kepala Museum Satriamandala.
Singkat cerita, diatur sebuah skenario rahasia menyerang Belanda di Yogyakarta secara mendadak. Dalam konteks ini, ada peran Soeharto (Presiden ke 2 RI) yang berpangkat Letkol ikut serta dalam serangan dadakan terhadap Belanda.
Dan, serangan selama enam jam akhirnya berhasil mengejutkan Belanda sekaligus dunia internasional kepalabahwa Indonesia masih ada, masih eksis dan tetap sebagai negara berdaulat.
“Peristiwa 1 Maret 1949 ini ada dalam rangkaian diorama tertera di Museum Satriamandala sebuah tonggak perjuangan penting Indonesia mempertahankan kemerdekaan,” jelas Salamun.
Jurnalis: dedy/abri








